Thursday, 2 December 2010

SANG TERPILIH (18)


Sejak Subagyo terpilih menjadi presiden, terjadilah pemborosan besar-besaran yang dilakukan oleh lembaga-lembaga publik di Indungsia. Hal ini tidak lain karena mereka meniru apa yang dilakukan Subagyo, "menjaga citra" dan mengabaikan kinerja. Lebih tepatnya semua itu dilakukan karena instruksi "organisasi" kepada Subagyo untuk memerintahkan jajarannya lebih banyak melakukan kampanye pencitraan daripada melakukan kinerja riel. Karena dengan demikian maka sebagian besar dana APBN akan mengalir ke media massa yang sebagian besarnya telah dikuasai orang-orang "organisasi" daripada memberikan manfaat yang mensejahterakan rakyat Indungsia. Bukankah "organisasi" memang tidak pernah menginginkan rakyat Indungsia, dengan 200 juta umat Islamnya itu, sejahtera?

Maka ramai-ramailah kementrian-kementrian, BUMN dan lembaga-lembaga negara membuat iklan pencitraan di media-media massa demi menghambur-hamburkan APBN. Karena dengan APBN yang boros, APBN menjadi defisit, dan itu menjadi alasan untuk berhutang lagi pada bankir-bankir asing.

Dan masih ada 1001 cara lainnya untuk mengabaikan kesejahteraan rakyat. Baru-baru ini misalnya Subagyo melakukan kampanye kontra-produktif dengan mengusik status keistimewaan propinsi Ngayogjo. Kontan saja hal itu mengundang kritikan masyarakat dan kemarahan warga Ngayogjo. Betapa tidak, para pemimpin dan rakyat provinsi ini telah banyak berkorban untuk memperjuangkan kemerdekaan Indungsia dari penjajahan negara asing. Bahkan saat Indungsia belum merdeka, provinsi ini secara "de jure" dan "de facto" telah merdeka karena memang memiliki pemerintahan sendiri yang diakui dunia internasional.

Bagaimana pun juga polemiki ini berhasil mengalihkan perhatian masyarakat dari persoalan-persoalan riel seperti harga beras dan sembako yang membumbung naik, BBM yang samakin langka dan mahal, infrastuktur yang tidak banyak perbaikan, kota-kota besar yang semakin macet dan polutif, pengangguran yang samakin menumpuk dan penguasaan aset-aset strategis serta penjarahan sumber-sumber alam oleh asing yang samakin intensif.

Di sisi lain wakil presiden Budiloyo justru semakin menghilang dari "peredaran". Jauh dari puji-pujian yang dilontarkan media massa kepadanya semasa kampanye, Budiloyo sama sekali tidak bisa menunjukkan jiwa kepemimpinan. Jangan kan melakukan program-program riel yang cukup cemerlang sebagaimana telah ditunjukkan oleh wakil presiden pendahulunya, bicara pun kini ia tidak pernah lagi dilakukan, bahkan di masa-masa krisis seperti saat kampung halamannya di Ngayogjo dihancurkan oleh gunung Merapen yang meletus. Ia seperti "sembunyi" entah di mana. Kabar yang terdengar tentangnya hanyalah kunjungan ke sana sini, menggunting pita dan studi banding ke luar negeri. Wakil presiden kok studi banding. Itu khan cukup dilakukan bawahannya. Yang harus dilakukan adalah menginisiasi, mengkoordinasi dan mengawasi program-program pembangunan.

3 comments:

Zyovanni said...

Baca nih:

http://arrahmah.com/index.php/blog/read/10135/abdullah-bin-saba-tokoh-yahudi-pencipta-golongan-syiah

http://arrahmah.com/index.php/blog/read/10169/benarkah-syiah-mengikuti-ahlulbait

http://arrahmah.com/index.php/blog/read/10136/menelusuri-jejak-syiah-di-indonesia

cahyono adi said...

ogah ah, ngak bermutu. komentari sj tulisan sy secara ilmiah

Abu Umar said...

Bang Adi...knapa gak dibaca aja dulu...........