Wednesday, 1 February 2017

Hakim MK pun Menjadi Tumbal Ahok

Indonesian Free Press -- Pengantar IFP: Ahok dan regim jokowi yang melindunginya semakin terpojok dalam kasus ini. Mereka bermaksud mendiskreditkan Patrialis Akbar dan melemahkan aspirasi ummat Islam. Namun Patrialis Akbar adalah tokoh Partai Amanat Nasional dan juga tokoh Minang, seperti halnya Irman Gusman yang terlebih dahulu dikriminalisasi oleh KPK.

Penangkapan Patrialis Akbar setelah sebelumnya Irman Gusman memberi kesan regim jokowi hendak menghukum orang-orang Minang yang dalam pilpres kemarin mayoritas menolak jokowi dan mendukung Prabowo. Namun, tentu saja hal ini akan membuat orang-orang Minang semakin solid menolak jokowi-ahok.

Ketika terjadi kristalisasi kelompok-kelompok anti-jokowi-ahok seperti saat ini, terutama setelah terbongkarnya praktik penyadapan oleh regim jokowi terhadap mantan presiden SBY yang dihormati kalangan militer dan sekaligus menyerempat Ketua MUI yang juga tokoh NU, kriminalisasi terhadap Patrialis Akbar akan semakin menyolidkan perlawanan publik terhadap regim jokowi dan membuatnya semakin tersudut.

-------------------
Lagi-lagi gara-gara Ahok, Istana pun bertindak cepat. Tidak hanya ILC yg dibatalkan namun Hakim MK yg "berbahaya" juga mereka nonaktifkan dengan menciptakan HOAX (Fitnah) Kasus Penyuapan dgn sebaik mungkin untuk "membunuh" siapa saja yg mengancam kebebasan penista Al-Quran. Sudah saatnya umat berpihak kepada setiap muslim yg membela Al-Quran dengan menyebarkan status ini seluas mungkin untuk melawan HOAX PEMERINTAH TAIPAN.

Beliau adalah Patrialis Akbar (PA), satu-satunya Hakim MK yg lantang membela Al-Quran yg dinistakan oleh Ahok & menyerukan persatuan umat Islam. Perlu diketahui beliau juga seorang yg hafal Al-Quran. Namun baru Jum'at kemaren (27 Februari) beliau ditangkap KPK dengan tuduhan tertangkap OTT (Operasi Titipan Taipan) KPK, kasus penyuapan. Hal jelas ini untuk menebar opini "Lebih baik kafir tapi tidak korupsi dari pada Muslim tapi korupsi" dan menyelamatkan Ahok.

Statemen di atas tentu punya argumentasi yg kuat, sebab:

1. PA adlh salah satu Hakim MK yg menyambut baik revisi Amandemen UUD 1945 ttg Presiden harus warga negara Asli Indonesia (pribumi).

2. Saat #AksiBelaislam 212 wawancara dg TV nasional, PA menyatakan mendukung sikap umat Islam dan itu dilindungi konstitusi, pernyataan PA jelas bersebrangan dg yg diinginkan Rejim. Bahkan PA sempat me-release video di YouTube tentang penghayatan Al-Maidah 51.

4. Beberapa bulan lalu di Harian Republika, PA menyerukan "Umat Islam jangan terpecah dalam memilih Pemimpin", tersirat PA menolak pemimpin non muslim dan tentu membuat berang sejumlah pihak, Khususnya ini akan mengganggu kelancaran program PKI untuk menguasai Indonesia.

5. OTT nya aneh, ditempat terpisah pisah dan waktu berbeda beda serta tak ada aktifitas penyuapan terjadi disaat penangkapan dilakukan thdp PA... jelas ini bukan OTT.

6. Penyuap yg dituduhkan adalah seorang Pendeta, Basuki Harisman dan uang yg katanya digunakan untuk suap masih di kantor calon pemberi. Dari sini Allah bongkar Hoax OTT KPK.

7. Anggota KPK mayoritas adalah beragama Nasrani, yg jelas mereka berpihak kepada Ahok.

8. Berita sebenarnya, bahwa perempuan yang diberitakan ada bersamanya saat penangkapan adalah istrinya sendiri, yaitu ibu Iyeth Patrialis Akbar.

9. Dan yang disebut dengan OTT ada uang USD20.000 plus SIN200.000 itu adalah fitnah. Padahal tidak Tidak ada uang saat penangkapan tsb.

10. Tidak ada bekas draft perkara judicial review. Karena beliau dan istrinya sedang jalan-jalan di Grand Indonesia berdua saja.

Penangkapan ini adalah merupakan HOAX ala Taipan, mengingat beliau adalah Hakim MK yang selalu mendukung aksi umat Islam, berseberangan dengan pemerintahan Jokowi, dan beliau adalah sangat anti penista Al-Quran. Patrialis Akbar menjadi korban yg dizhalimi oleh rejim.

#BebaskanPatrialisAkbar#TangkapAhok


Keterangan: dicopas dari status Facebook teman.

3 comments:

Kasamago said...

Kebenaran pasti menang, Allah maha mengetahui..


Jayalah NKRI

Anonymous said...

penangkapan PA, penyadapan telpon SBY dan Ma'ruf Amin, kriminalisasi ulama dll saya yakini adalah kerjaan seorang intel berpengalaman yg saat ini sangat berkuasa, melebihi kekuasaan presiden''lagian apa sih bisanya presiden?,,,dari orang kecil sampai menjadi presiden, dia adalah orang yg tidak bisa apa2, yg selalu diatur..

Ferliandra alera said...


Very Nice !

Furniture Rotan Sintetis