Sunday, 26 February 2017

Selamat Tinggal Iran, I Love Indonesia

Indonesian Free Press -- Seorang pecatur remaja wanita Iran, Dorsa Derakhshani (18 tahun) dilarang tampil oleh pemerintah Iran dalam turnamen 2017 Tradewise Gibraltar Chess Festival karena menolak mengenakan hijab. Adik Dorsa, Borna (15 tahun) juga dilarang tampil dalam turnamen tersebut setelah ia bertanding melawan pecatur Israel. Demikian seperti dilaporkan media-media Iran dan media internasional pekan lalu.

Yang menjadi perhatian dalam tulisan ini adalah fakta bahwa generasi muda dan rakyat Iran secara keseluruhan tengah mengalami degradasi 'keimanan' dimana mereka cenderung untuk meninggalkan nilai-nilai agama dan nasionalisme mereka. Hal ini sejalan juga dengan kesaksian Brendan O'Connell:

"Secara umum generasi muda Iran sangat mengidolakan Amerika dan 'Barat' . (Di mata mereka) Amerika adalah negeri susu dan madu dan tidak ada larangan minum alkohol!" demikian sebagian tulisan Brendan di blog Henry Makow PhD, Desember 2016 lalu berjudul 'Iranian Youth Oblivious to Satanist (Zionist) Threat'.


Brendan adalah aktifis anti-zionisme asal Australia yang telah dipenjara berbulan-bulan karena tulisannya yang dianggap anti-semit. Ketika tengah menghadapi ancaman hukuman kedua karena masalah yang sama, ia mencari suaka ke Iran dan tinggal beberapa minggu di negara para Mullah itu sejak November 2016. Namun hanya beberapa minggu ia bisa bertahan, dan kemudian ia memutuskan untuk pergi setelah merasa kecewa dengan apa yang dialaminya di Iran.

"Saya baru turun dari pesawat dan kini bersama empat orang di dalam mobil. Mereka memberi saya segelas vodka dan berteriak: Tidak ada kebebasan!'," tulis Brendan tentang pengalamannya di Iran bersama orang-orang pemerintahan Iran.

Lalu, saya pun tanpa sadar membandingkannya dengan kondisi tanah air. Meski secara kualitatif 'tingkat keimanan' kaum Muslim Indonesia mungkin belum setinggi Iran, namun saya melihat kecenderungan positif di Indonesia pada saat dimana di Iran dan negara-negara Islam lainnya justru mengalami kecenderungan negatif.

Lihat saja fenomena hijab di Indonesia. Dari sekolah dasar hingga menginjak bangku kuliah di awal dekade 90-an, saya hanya menemukan seorang teman perempuan seangkatan yang berjilbab. Namun kini pajalar dan mahasiswa berjilbab justru mendominasi sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Fenomena jilbab juga melanda semua wilayah, dari desa-desa terpencil di kaki gunung hingga ke kantor-kantor modern di kota-kota besar. Bahkan, di institusi-institusi negara yang sebelumnya dikenal 'sekuler' seperti TNI dan Polri, jilbab sudah diterima sebagai pakaian resmi.

Namun tidak hanya 'kulit' berupa pakaian saja yang mengalami Islamisasi, namun akhlak dan moral-pun mengikutinya. 14 tahun yang lalu saya masih bisa melihat artis seperti Dewi Sandra tampil di televisi dengan pusar terbuka. Kini, Dewi Sandra sudah berjilbab dan pertunjukan 'pusar terbuka' di televisi seperti itu pun dijamin tidak lolos sensor Komisi Penyiaran.

Sementara di Mesir, pertunjukan tari perut masih bisa ditonton di televisi dan di acara-acara resmi, dan Presiden Turki Reccep Erdogan bisa menari dan menyanyi bersama penyanyi populer berdandan seksi di muka umum. Hidayat Nurwahid dan Annis Matta dijamin tidak akan berani bernyanyi di muka umum bersama penyanyi seksi Aura Kasih.(ca)


Bersambung.

3 comments:

Anonymous said...

Blog taik munafik

Anonymous said...

Blog corong PKS Wahabi salafi sudah putar arah ya sudah ada donatur dari Saudi sudah ikut menjilat ludah sendiri sudah kebagian dana suap sapi ya

Fery Sansui said...

Blog wahabi