Indonesian Free Press -- Presiden Amerika Donald Trump dan Presiden Indonesia sama-sama menjadi perhatian khusus dalam pertemuan G-20 di Hamburg, Jerman, baru-baru ini. Namun, sayangnya perhatian itu bukan dalam konteks positif.

Perhatian negatif terbesar mungkin adalah tingkah Melanie Trump, putri kandung Trump, yang secara 'over acting' menduduki kursi ayahnya ketika sang ayah meninggalkan kursi tersebut selama beberapa waktu. Selama beberapa menit, Melanie, yang sebelumnya duduk di belakang, duduk bersama Presiden Cina Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Turki Recep Tayyip Erdo─čan, PM Inggris Theresa My dan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Sejarahwan Anne Applebaum seperti dikutip kantor berita Perancis Agence France-Presse (AFP) sontak mengecam aksi tersebut. “Sosialita yang tidak siap dari New York, yang tidak dipilih rakyat dan tidak berkualitas, menempatkan diri sebagai manusia terbaik yang mewakili kepentingan Amerika”.

Namun, kritikan lain juga dialami Trump berkaitan dengan kegagalan Trump untuk menjadi 'pusat perhatian' dalam sesi 'foto keluarga' para pemimpin negara-negara G-20. Dalam momen paling penting ini, Trump harus rela berdiri nyaris di ujung kiri barisan terdepan. Ia hanya dihalangi oleh Presiden Perancis Macron untuk berada di ujung.

Dalam dunia politik diplomasi, hal ini tentu menjadi perhatian karena selama ini, seorang presiden Amerika selalu menjadi 'pusat perhatian' dalam pertemuan-pertemuan internasional dan berada di tengah-tengah pada sesi foto bersama. Apalagi, Donald Trump juga dikenal sebagai pribadi yang 'high profile'. Pada KTT-NATO di Brussels bulan Mei lalu misalnya, Trump sampai mendorong Perdana Menteri Montenegro ke samping demi untuk tampil di tengah-tengah para pemimpin NATO.

Tersingkirnya Donald Trump adalah karena tuan rumah, pemerintah Jerman yang dipimpin Angela Merkel, mengubah format kedudukan para pemimpin G-20 tersebut, yaitu para pemimpin senior berada di tengah. Akibatnya, Donald Trump yang baru menjabat pada awal tahun ini, harus berada di ujung, dan hanya 'dikalahkan' oleh Presiden Perancis.

Perubahan format ini sepertinya disengaja mengingat Merkel diketahui publik terlibat perselisihan politik dengan Trump. Menjelang pertemuan itu, Merkel bahkan secara terbuka mengatakan bahwa 'Amerika bukan teman'.

Publik Amerika sendiri, yang diwakili oleh media-media utamanya yang diketahui anti-Trump, juga mem-bully Donald Trump. Majalah Newsweek, misalnya, menulis judul 'Di sesi foto bersama G20, Donald Trump tidak bisa menyelinap ke depan dan tengah'. Ini merujuk pada aksi Trump di KTT-Nato di Brussels yang menyelinap ke depan-tengah.

Namun, perhatian lebih besar tentu diberikan publik Indonesia kepada presidennya, JOkowi, yang juga hadir dalam pertemuan itu. Hal ini dipicu oleh foto-foto yang disharing oleh Perdana Menteri Kanada Trudeau yang salah satunya menunjukkan bagaimana Jokowi tampak seperti orang yang 'kuper' di tengah-tengah para kepala negara yang akrab satu sama lain.

Komentar warga netizen watz2000 menjadi wakil yang pas dari masalah ini: "Presiden mu kasihan tuh kayak orang dusun gak bisa gaul... padahal dia biasa selfie-selfie kan kebiasaan anak gaul".

Hal ini tentu bertolak belakang dari pencitraan massif media massa utama negeri ini. situs liputan6 milik televisi SCTV misalnya menulis: 'Bicara Terorisme di G20, Jokowi Pamer Program Deradikalisasi ...'. Situs kumparan.com menulis: 'Kostum Jokowi dan Trudeau yang Menarik Perhatian di KTT G20 ...'. Atau situs harianjogja.com yang menulis: 'Bertemu di KTT G20, Trump “Cemburu” pada Tangan Jokowi'.

Apalagi dibandingkan pencitraan pada momen KTT-G20 tahun lalu di Cina tahun 2016 lalu. Saat itu kompas menulis: 'Beberapa Pemimpin Negara Minta Bertemu Jokowi Saat KTT G20 ...'. Sedang situs satuislam.com menulis: 'Di KTT G20 Obama Dihina, Jokowi Dimuliakan'. Sedangkan situs redaksiindonesia.com menulis: 'Pesan Jokowi di KTT 2016 Hangzhou, Menginspirasi Pemimpin-pemimpin Negara G20'.(ca)