Tuesday, 30 October 2012

KABAR SAMPAH TIMUR TENGAH

Selama beberapa waktu "TVOne" menayangkan program berita "Kabar Timur Tengah" yang digelar setiap tengah malam pukul 23.00 atau 24.00 WIB. Program ini secara khusus menayangkan berita-berita dan analisis seputar fenomena "Arab Spring" atau revolusi Arab yang kini masih bergolak di beberapa bagian Arab dengan fokus utama saat ini adalah krisis Syria.

Tentu saja program seperti ini sangat menarik dan bermanfaat seandainya benar-benar ditayangkan sesuai kode etik jurnalisme. Namun sayangnya program "Kabar Timur Tengah" sangat jauh dari kode etik jurnalisme seperti "meliput dua pihak" yang terlibat konflik atau menyebutkan dengan jelas pelaku peristiwa, motif atau latar belakang terjadinya peristiwa, serta waktu dan tempat terjadinya peristiwa.

Dalam prinsip "meliput dua pihak" program "Kabar Timur Tengah" sangat jauh terpenuhi karena sepenuhnya atau 100% berita-beritanya berasal dari pihak pemberontak tanpa memberikan porsi sepersen pun pada pihak pemerintah. Selain itu program ini juga sepenuhnya mendasarkan sumber berita pada stasiun televisi "Al Jazeera" yang sudah terkenal keberpihakannya yang mutlak terhadap pemberontak. Akibatnya tentu saja program itu hanya berisi kecaman dan kutukan pada pemerintah Syiria dan puji-pujian 1/2 mati bagi para pemberontak.

Dalam prinsip penyebutan pelaku, motif, motif dan tempat program "Kabar Timur Tengah" juga sangat amburadul. Menayangkan gambar yang itu-itu saja dan disebutkan sebagai peristiwa yang berbeda-beda, terkadang menayangkan gambar tanpa menyebutkan waktu dan tempatnya.


Dalam standar jurnalisme, program "Kabar Timur Tengah" bisa disebut sebagai skandal jurnalisme di Indonesia. Sangat patut redaksi yang bertanggungjawab atas program itu untuk mengundurkan diri dari jabatannya.

Saya akan contohkan sebagian isi program "Kabar Timur Tengah" hari Selasa dini hari (30/10). Dalam "scene" berita tentang "demonstrasi anti-pemerintah Lebanon yang terus berlangsung" ditayangkan gambar aksi demonstrasi warga Lebanon menuntut pengunduran diri PM Najib Miqati. Ketika gambar ditayangkan pembawa acara tidak menyebutkan waktu dan tempat terjadinya aksi demonstrasi tersebut.

Saya sudah mencoba men-"searching" berita tersebut di internet, namun tidak saya temukan berita seperti itu tgl 29 Oktober siang seperti semestinya peristiwa itu terjadi. Dari pengamatan saya, gambar tersebut adalah gambar aksi demonstrasi yang dilakukan oposisi Lebanon tgl 21 Oktober 2012 yang disusul dengan upaya kudeta yang gagal oleh oposisi. Dengan kata lain telah terjadi manipulasi dalam berita tersebut.

Dari analisa yang sehat bisa disimpulkan bahwa oposisi Lebanon tidak mungkin lagi "berani" melakukan aksi demonstrasi menuntut pengunduran diri PM Najib Miqati setelah upaya kudeta kotornya gagal. Hampir dipastikan para penanggungjawab aksi kudeta gagal itu tengah bersembunyi, baik di Paris sebagaimana mantan PM Saad Hariri, atau di tempat lain.

"Kabar Timur Tengah" tidak menayangkan pengakuan keluarga Wissam al Hassan, kepala inteligen yang tewas akibat serangan bom yang menjadi sumber terjadinya aksi demonstrasi menentang Najib Miqati, yang menyatakan bahwa Miqati sama sekali tidak terlibat dalam pembunuhan al Hassan. Program ini juga tidak menyebut kedekatan pribadi antara Miqati dengan al Hassan. Itulah sebabnya Miqati tidak pernah "menyentuh" al Hassan meski publik Lebanon mengetahui al Hassan adalah tokoh kontroversial yang hanya menjadi tangan kanan kubu oposisi.

Al Hassan adalah komandan pasukan pengawal pribadi Rafiq Hariri, mantan perdana menteri yang tewas akibat serangan bom tahun 2005. Secara "ajaib" al Hassan tidak ikut mengawal Rafiq saat terjadi serangan yang menewaskan Rafiq dan hampir seluruh pengawalnya itu. Tidak heran jika ia sempat menjadi terduga pelaku serangan dan menjadi incaran tim penyidik internasional yang menangani kasus pemboman itu. Hanya karena pembelaan Saad Hariri, putra kandung Rafiq yang mendapat keuntungan dari kematiannya, serta mempertimbangkan posisinya yang penting sebagai kepala inteligen Lebanon, maka dugaan itu dibatalkan.

Al Hassan pulalah yang bertanggungjawab atas penahanan tanpa bukti kuat empat pejabat militer Lebanon selama enam tahun lebih dengan tuduhan terlibat dalam pemboman Rafiq Hariri. Keempatnya telah dibebaskan tanpa mendapatkan remisi apalagi gant irugi.

Waktu terjadinya serangan bom yang menewaskan al Hassan juga menjadi penjelasan siapa al Hassan sebenarnya. Ia baru pulang dari Perancis mengunjungi keluarganya yang tingal di Paris, sementara Perancis adalah sahabat Israel dan Amerika dan ketiga-tiganya menaruh perhatian serius atas Lebanon sebagai medan perang antara zionis internasional melawan kubu anti-zionisme.

Semua fakta-fakta itu tentu saja diabaikan oleh "Kabar Timur Tengah" yang menjadi "penyambung lidah zionisme".

1 comment:

idam artupas said...

Ya kabar sampah .. saat ini bukan Lagi KABAR TIMUR TENGAH tapi KABAR DUNIA..jelas sudah tyone dikuasai antek kafir penjajah yg tak menginginkan kabar sebenarnya.