Wednesday, 11 December 2013

AL MANAR DISAYANG, AL MANAR DIKECAM

Bila memperhatikan blog ini lebih detil, akan terlihat telah terjadi perubahan meski tidak terlalu mencolok dalam hal referensi berita politik Timur Tengah. Jika sebelumnya Press TV dan Al Manar menjadi referensi utama, kini muncul referensi baru, yaitu Al Akhbar.

Al Akhbar sama dengan Al Manar, yaitu media massa Lebanon yang menyuarakan aspirasi "Perjuangan" anti-Israel. Bedanya Al Manar adalah media resmi organisasi Hizbollah, sementara Al Akhbar bukan.
Saya melihat dalam laporan-laporannya sebagaimana tampilannya, situs Al Akhbar lebih berkualitas daripada Al Manar.

Tanpa pretensi apapun sayapun mulai menjadikan Al Akhbar sebagai referensi utama menggantikan Al Manar, hingga akhirnya saya mendapatkan fakta yang kurang mengenakkan: Al Manar mengkhianati perjuangan rakyat Bahrain melawan regim totaliter Sunni Wahabi. Selain itu saya juga mendapatkan beberapa informasi menarik yang menyebutkan Al Manar telah kehilangan popularitas karena ketidak-profesionalannya.

Publik Lebanon saat ini dikejutkan dengan kabar tentang permintaan ma'af manajemen Al Manar kepada regim Bahrain atas laporan-laporannya tentang aksi-aksi demonstrasi yang digelar rakyat menentang regim Bahrain. Permintaan ma'af itu disampaikan oleh Al Manar dalam acara tahunan Arab States Broadcasting Union (ASBU) yang digelar di Tunisia baru-baru ini.

Sumber-sumber di dalam ASBU mengkonfirmasi permintaan ma'af tersebut dibacakan hari Sabtu 9 Desember lalu, mencakup janji untuk "lebih obyektif" dalam meliput berita-berita dari Bahrain. Sebagai imbalan pemerintah Bahrain diharapkan membatalkan ancaman penghentian operasional Al Manar di Bahrain. Sumber tersebut menyebutkan permintaan ma'af tersebut dijembatani oleh Sekjen ABSU dalam rangka "menjaga hubungan bersahabat antara negara-negara Arab".


Atas berita yang tidak mengenakkan tersebut Hezbollah segera mengeluarkan klarifikasi yang disampaikan langsung oleh sekjen Hizbollah Hassan Nasrallah yang menyebutkan permintaan ma'af tersebut bukan kebijakan resmi Hizbollah dan diambil sepihak oleh para pemimpin Al Manar. Nasrallah juga menyatakan permintaan ma'af kepada rakyat Bahrain.

"Sikap kami mendukung rakyat Bahrain yang tertindas tidak berubah sama sakali. Penindasan pemerintah terhadap rakyat Bahrain terus berlangsung hingga saat ini, meniadakan hak-hak dasar mereka untuk berpartisipasi dalam urusan politik negara," kata Nasrallah dalam pernyataannya yang disiarkan Al Manar.

Sebaliknya Nasrallah juga mengecam Al Manar yang dianggap kurang intensif memberitakan peristiwa-peristiwa di Bahrain.

"Kami menganggap media (Al Manar) tidak cukup membongkar ketidakadilan yang diterima rakyat Bahrain," tambah Nasrallah.

Bagaimana pun kabar tersebut menimbulkan berbagai spekulasi. Sebagian mengaitkannya dengan perubahan sikap politik Iran terhadap barat menyusul tercapainya kesepakatan nuklir Iran dengan negara-negara anggota tetap DK PBB dan Jerman. Apalagi indikasi kuat telah menunjukkan hal itu, yaitu perubahan sikap media-media yang dekat dengan Iran dalam meliput berita-berita dari Bahrain, seperti "al-Alam". Media ini telah mengurangi intensitas pemberitaan tentang Bahrain.

Tentang menurunnya kualitas Al Manar ini tahun lalu Al Akhbar telah mengeluarkan analisisnya berjudul "Manar TV Loses Its Edge".  Menurut laporan tersebut ada kesengajaan di kalangan internal pemangku kepentingan Al Manar untuk membuatnya terpuruk dengan alasan yang tidak bisa diketahui. Misalnya saja Al Manar tidak mengubah tampilannya layout dan lightingnya selama hampir 20 tahun meski banyak pihak telah menawarkan bantuan cuma-cuma.
 
Al Manar juga mengabaikan isu-isu penting yang semestinya menjadi hak eksklusifnya sebagai media resmi Hizbollah, seperti isu Pengadilan Internasional pembunuhan mantan perdana menteri Rafiq Hariri yang menjerat beberapa personil Hizbollah. Ketika Nasrallah mengumumkan penyelundupan peralatan mata-mata Israel, ia bahkan memberikan hak siarnya kepada media lain, bukan Al Manar. Demikian juga peristiwa penculikan 2 tentara Israel oleh Hizbollah yang memicu perang tahun 2006 tidak diberitakan Al Manar dan justru diberitakan media lain.

Di sisi lain AL MANAR yang mengklaim sebagai penyambung lidah rakyat Lebanon yang pluralis, kini cenderung mengarah sebagai media sektarian. Misalnya saja mereka melarang menayangkan nara sumber dan bintang tamu wanita tanpa hijab dan melarang para host laki-laki berdandan ala barat. Ini berbeda jauh dengan, misalnya, Press TV yang tampil lebih liberal dan modern namun tanpa melanggar norma-norma agama dan kesusilaan.

   

REF:
"Lebanon: Hezbollah Media Apologize to Bahrain Regime"; Bassem Alhakim, Noureddine Baltayeb, Zakia Dirani; AL AKHBAR; 9 Desember 2013
"Manar TV Loses Its Edge"; Zainab Hawi; AL AKHBAR; 14 December 2012
"Manar TV: Hiding the Unveiled"; AL AKHBAR

2 comments:

dian adi said...

salut bung...
anda melihat media massa dengan cukup objektif, jangan hanya karena milik hizbollah lalu semuanya diikuti, sebab hizbollah juga manusia...
semoga mereka cepat khilaf dan kembali menjadi media yg kapabel serta kompatibel..

abu bakar said...

kita umpama lebah yang memilih bunga-bungaan saja ...yang jernih dan mencerah, tidak salah membaca sumber yahudi - untuk dijadikan sempadan
teruskan pak Adi