Tuesday, 27 June 2017

Sudahlah, Amerika-Israel Sudah Kalah di Suriah

Indonesian Free Press -- Amerika dan Israel masih berusaha keras untuk mewujudkan ambisinya menguasai dan menananamkan pengaruh permanen di Suriah sembari mengekang kamajuan pengaruh Iran di wilayah tersebut. Namun, Amerika-Israel sudah kalah dan semua upaya itu tidak mungkin terealisir.

Demikian pernyataan editor senior Veterans Today Ian Greenhalgh dan senator Amerika Tim Kaine terkait dengan aksi-aksi terakhir Amerika dan Israel di Suriah yang mencoba membangun kekuatan baru di Suriah timur setelah koalisi pro-Suriah berhasil menguasai wilayah barat Suriah.


"Masalahnya adalah, kekuatan gabungan Iran, Syria, Rusia dan Hezbollah telah memenangkan peperangan. Mereka hanya perlu untuk menghancurkan kelompok-kelompok teroris yang tersisa. Amerika pun mengetahui hal ini. Itulah sebabnya mereka (hanya bisa) berusaha mempengaruhi bentuk Suriah dan Irak paska-perang," tulis Greenhalgh di Veterans Today, kemarin (27 Juni).

Seperti sudah dilaporkan di blog ini, saat ini Amerika dan Israel tengah berusaha keras untuk membendung pengaruh Iran di Suriah dengan membangun basis wilayah di Suriah timur, memblokir jalur suplai dari Iran dan Irak ke Suriah hingga Laut Mediterania.

"Amerika tengah berusaha keras untuk mencoba membangun semacam negara baru di Suriah Timur pada saat ISIS mencapai tahap kehancuran. Ini untuk mencegah terbentuknya jembatan darat yang membentang antara Irak, Irak dan Suriah yang akan menjadi keuntungan strategis (bagi Iran) dan memungkinkan pasukan dan suplai bergerak bebas (melalui jalur itu). Amerika, Israel dan Saudi ingin memecah Syria, Iraq dan Iran menjadi negara-negara kecil yang lemah melalui apa yang disebut 'Balkanisasi' setelah pecahnya Yugoslavia tahun 1990-an," tambah Greenhalgh.

Greenhalgh juga menambahkan bahwa pembangunan kembali Suriah dan Irak paska perang juga telah menjadi konsern Qatar dan Turki. Inilah salah satu faktor mengapa koalisi Saudi berusaha mengisolir Qatar.

Menurut Greenhalgh, upaya Amerika dan Israel itu akan menghadapi perlawanan sengit dari Iran, Rusia, Irak dan Suriah sehingga berpotensi menjadi pemicu konflik lebih serius yang bisa berujung pada perang dunia.

Sementara itu senator Tim Kaine, seperti dilansir media Iran FARS, mengatakan bahwa serangan-serangan yang dilakukan Amerika di dalam wilayah Suriah, terlebih lagi ditujukan kepada pasukan Suriah, merupakan 'aksi ilegal'.

"Katakan kepada regim Pentagon yang mengklaim aksinya menembak pesawat SU-22 Suriah sebagai “collective self-defense” untuk melindungi sekutunya. Ini jauh di luar misi Amerika di Syria, yaitu memerangi ISIL. Hal yang sama ketika rudal-rudal Tomahawk ditembakkan ke pangkalan militer Suriah beberapa waktu sebelumnya," kata Kaine.

Kaina juga menyebut aksi Amerika di Suriah timur sebagai aksi ilegal karena tidak didukung oleh mandat PBB atau permintaan resmi pemerintah Suriah.

"Tidak perlu berfikir strategis untuk menyadari bahwa dengan berusaha menguasai wilayah yang ditinggalkan ISIL, Amerika berusaha mendapatkan apa yang gagal didapatkan selama kampanye 'perubahan regim'. Kekuatan gabungan Iran, Syria, Russia dan Hezbollah kini menguasai wilayah barat Suriah (yang padat penduduk dan perkotaan) dan kini bergerak untuk merebut wilayah timur yang masih dikuasai ISIL. Segeraka mereka akan dibantu oleh pasukan Suriah yang juga tengah bergerak ke barat. Ini bukan masalah menanamkan pengaruh, melainkan masalah pembebasan seluruh Iraq dan Syria (dari teroris)," kata Kaine.

Menurut Kaine, konflik di Suriah timur tidak didukung oleh masyarakat internasional, termasuk Eropa, yang melihat resikonya terlalu berat untuk ditanggung. Ia mengingatkan, dengan 160.000 pasukan Amerika telah gagal untuk mengontrol Irak paska invasi tahun 2003.(ca)

5 comments:

Anonymous said...

Sebenarnya kalau tak ada daes atau ISIS gerak Iran akan lamban karena dukungan rakyat Suriah dan Irak tak begitu kuat apa lagi Yaman yang kurang simpatik sama hauti cuma dengan megobok obok suriah dan irak maka mereka sadar rakyat Suriah terseleksi tak ada pilihan yg pengecut ikut Amerika dan turky yg cinta tanah air ikut pemerintah di Irak yg munafik sudah nampak dan turky mulai sadar siapa yg bisa di kawanin terlebih Qatar nyaris jadi Kuwait lebih lagi lebih dari Libya akan dimakan Saudi dan Amerika sebagai tumbal di Yaman untuk menutup kerugian akibat perang di Yaman sehingga aneksasi Qatar jadi pilihan utama dan Yaman tak mungkin untuk bisa di raih .Yaman jadi kubangan bagi Saudi Qatar lebih condong membantu Yaman sehingga bisa bisa menekan ambisi Saudi melebarkan perang jadi dengan memblokade Qatar Saudi yg rugi . pendapatan dari non migas di ambil turky dan Iran . Saudi tak akan bisa menghindar dari belitan ini dan Qatar punya sekutu yg setia sungguh ceroboh dan bodoh Yaman hanya tahap menyerang fasilitas militer dan menghindari ke sektor migas Saudi karena akan memicu naiknya harga migas yg ujungnya mengenakkan Saudi .kita lihat dua tahun lagi .dunia akan membara .kalau Amerika salah langkah yg membuat hancur Amerika .dan Korea Utara mulai menekan Amerika dan menari nari diatas kepala Amerika sambil mengejeknya
Dasar preman tua Amerika sudah tak punya nyali mengancam

Kasamago said...

Kedok ISis dan para dalangnya sudah kadung menjadi rahasia umum..


Bravo rakyat Suriah

Anonymous said...

Tata bahasamu kacau, dibaca aja tdk enak apalagi utk dipahami & dipercaya. Kayak hsl copas dr google translate aja

bayu adipati said...

Nggak ngerti aku ngomong apa si anonymous yg komen teratas..

Anonymous said...

Akhirnya Mosul jatuh juga,pm abadi dedikasikan kemenangan kepada fatwa ALi sistani 2014 kernanya Iraq tidak jatuh kepada terrorist,alhamdullillah