Thursday, 11 July 2013

FAKTOR SYRIA DALAM KUDETA MESIR

"Kombinasi dari rencana agresif atas Syria, bersama dengan upaya pendukung-pendukung presiden melibatkan konflik dengan Ethiopia, ditambah aksi-aksi demonstrasi anti-Moersi besar-besaran yang diorganisir oleh National Salvation Front dan Tamarod Movement, meyakinkan militer bahwa Moersi yang tidak kompeten, yang telah menghancurkan popularitasnya dengan mengemis bantuan kepada IMF bulan November lalu, membawa resiko yang tidak bisa ditoleransi bagi Mesir.”

Demikian kesimpulan yang didapatkan oleh Webster G. Tarpley dalam artikelnya "Morsi ousted to stop plan for sending Egypt military to attack Syria’s Assad" yang dimuat di Press TV tgl 9 Juli lalu.

Menurut laporan media paling berpengaruh Amerika The Washington Post baru-baru ini kemarahan militer terhadap Moersi memuncak bulan Juni lalu ketika Moersi secara berurutan mengeluarkan retorika agaresif terhadap Ethiopia dan Syria. Para pejabat militer Mesir yang tidak disebutkan identitasnya menyebutkan bahwa tentara merasa khawatir jika Moersi memerintahkan perang melawan Ethiopia dan terlebih terhadap Syria.

Seruan Moersi untuk melakukan "jihad" ke Syria muncul hanya tiga hari setelah menlu Amerika John Kerry, dalam pertemuan Principals’ Committee of the US Government mewacanakan serangan udara terhadap Syria, yang hasilnya adalah keputusan untuk mempersenjatai pemberontak. Oleh para analis kedua peristiwa tersebut disimpulkan bahwa Moersi telah terlibat dalam skenario Amerika atas Syria.

Puncaknya terjadi pada tgl 15 Juni ketika Moersi memutuskan hubungan diplomatik Mesir dengan Syria.

Berbicara di hadapan ribuan anggota kelompok ekstremis Islam di stadion indoor Kairo, Moersi mengumumkan: “Kita telah memutuskan untuk menutup kedubes Syria di Kairo. Duta besar Mesir di Syria juga akan ditarik. Rakyat Mesir dan tentaranya tidak akan meninggalkan rakyat Syria hingga hak-hak mereka dipenuhi dan pemimpin baru (Syria) terpilih."

Bagi sebagian besar rakyat Mesir, terutama militernya, Syria adalah "saudara yang sangat dekat". Mesir dan Syria pernah menyatukan diri menjadi satu negara United Arab Republic antara tahun 1958 hingga 1961. Mereka telah bahu-membahu melawan agresi Israel dalam berbagai peperangan. Selama berpuluh tahun mereka dipimpin oleh pemerintahan yang sama-sama berpaham sosialis nasionalis Arab.

Dalam kesempatan itu Moersi mendesak NATO untuk menerapkan "no-fly zone" yang implikasinya adalah pemboman besar-besaran terhadap Syria yang membawa kehancuran besar bagi negara Syria, termasuk membunuh ribuan penduduknya, sebagaimana telah dialami Irak dan Libya. Namun di kesempatan berikutnya ia justru mengecam "campur tangan asing", meski yang dikecamnya adalah Hizbollah. Lebih jauh Moersi, dan para pembicara lain dalam acara tersebut, bahkan menyerukan sentimen anti-Shiah, satu kelompok mazhab yang jumlahnya cukup signifikan di Timur Tengah dan telah memiliki akar sejarah yang kuat di negara-negara Arab, termasuk mendirikan kota Kairo dan Universitas Al Azhar di Mesir. Selang tiga hari setelah seruan tersebut, massa ekstremis Sunni membantai seorang ulama besar Shiah Mesir dan beberapa pembantunya.

Dalam satu pernyataan yang "membingungkan" Moersi mengatakan, "Rakyat Mesir berdiri di samping rakyat Lebanon dan Hizbollah melawan serangan Israel tahun 2006, dan kini kami berdiri melawan Hizbollah demi Syria."

Kepada media Israel Jerussalem Post ia juga mengatakan bahwa Syria telah menjadi target "kampanye penghancuran dan pembersihan etnis yang terencana yang dilakukan oleh negara-negara regional dan internasional." Menurut media Israel tersebut, yang ditunjuk Moersi adalah Hizbollah dan Iran.

Menanggapi sikap Moersi tersebut seorang pejabat Syria mengatakan kepada kantor berita Syria SANA bhawa Moersi telah bergabung ke dalam "konspirasi pecah belah yang dipimpin Amerika dan Israel terhadap Syria. Namun Syria percaya bahwa sikap tersebut tidak mencerminkan keinginan rakyat Mesir." Lebih jauh ia menyebut sikap Moersi sebagai "tidak bertanggungjawab".

Selama ini Moersi telah dikelilingi oleh para ekstremis seperti Mohammed Hassan dan Mohammed Abdel-Maqsoud (pemimpin Islamic Legitimate Body of Rights and Reformation), yang tidak henti-hentinya menyerukan jihad ke Syria. Mereka juga tidak henti-hentinya menyerukan agar orang-orang Shiah diusir dari Mesir.

Dalam pertemuan tgl 15 Juni tersebut di atas beberapa pembicara menyebut orang-orang Shiah sebagai "kafir". Sebutan yang sama juga ditujukan kepada orang-orang Islam Mesir yang menjadi oposisi terhadap Moersi.

Dua hari sebelumnya, Moersi juga menghadiri pertemuan sektarianisme Sunni untuk Syria yang menamakan diri “The Position of the Nation’s Scholars on the Developments in Syria.” Di antara yang hadir dalam pertemuan akbar yang disiarkan secara luas di tanah Arab itu adalah ulama takfiri (suka mengkhafirkan) Yusuf Qardawi, yang gencar menyerukan "jihad" ke Syria sembari mengabaikan seruan "jihad" ke Palestina. Dalam kesempatan tersebut penasihat luar negari Moersi yang menjadi penggagas pertemuan, Khaled al-Qazzaz, menyerukan rakyat Mesir untuk pergi berjihad ke Syria dan menyatakan bahwa "pemerintah tidak akan melarang warga negara Mesir yang pergi berperang ke Syria".

Perkembangan yang membawa konsekuensi sangat serius tersebut tentu saja menjadi perhatian para jendral Mesir. Hanya sehari setelah pertemuan tgl 15 Juni militer membuat pernyataan bahwa "tugas tentara adalah menjaga perbatasan", dan bukan menyerang negara lain. Kontan pernyataan tersebut membuat marah Moersi dan para pembantunya.

Menurut penuturan beberapa pejabat militer Mesir, sikap Moersi terhadap Syria sangat mengkhawatirkan para jendral militer. Pada saat kondisi politik negara yang belum stabil, Moersi justru memicu terjadinya radikalisme di dalam negeri.

Sikap Moersi atas Syria tentu saja juga tidak populer di kalangan birokrat Mesir. Beberapa di antaranya telah mengingatkan Moersi untuk meninggalkan sikap tersebut, sebagaimana dilaporkan media online Al Ahram tgl 16 Juni. Menurut laporan tersebut para pejabat Mesir melihat bahaya yang ditimbulkan dari sikap keras Moersi atas Syria sebagai "tidak bisa ditanggulangi".

Masih menurut laporan tersebut Moersi telah menunjukkan watak yang "tidak stabil". Pada satu kesempatan menerima Iran sebagai mitra strategis dalam penyelesaian konflik Syria, namun kemudian menyingkirkannya begitu saja hanya demi meraih "simpati" Amerika dan Saudi. Moersi sangat berharap Saudi akan menggelontorkan bantuannya untuk Mesir.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa para pejabat sipil dan militer Mesir merasa khawatir bahwa Moersi telah membawa Mesir ke dalam jebakan konflik Sunni-Shiah yang sangat destruktif karena Shiah juga memiliki pengaruh besar tidak saja di Syria, namun juga di Irak dan Lebanon.

(BERSAMBUNG)


Sumber:
"Morsi ousted to stop plan for sending Egypt military to attack Syria’s Assad"; Webster G. Tarpley; Press TV; 9 Juli 2013

3 comments:

edi TarwoTo said...

ketika kebijakan beliau memutus hubungan diplomatik syria, memblokade gaza dan mempererat hubungan dg israel dan amerika, bagi saya sangat membingungkan, karena beliau adalah tokoh islam terkemuka, namun dengan berjalannya waktu mulai kelihatan, sikap dan tindakannya yang menghancurkan rakyat mesir, astagfirullah

nunank kadim said...

Rekayasa yang telah dirancang beberapa abad yang lalu...!

Pencinta Ahlul Bait said...

dalam islam tidak dikenal politik karena politik ajaran plato dan sokrates namun islam mengenal namanya siyasah karena rosulullah mengajarkan itu memimpin dengan ke jujuran dan akhlakkul karimah secara konsisten dan mendahulukan rasa kemanusiaan karena nyawa manusia lebih berharga dari segalanya kalau kini bisa dilihat penerapan siyyyasah di Iran mereka tak terdengar dalam bicara bohong apa lagi fitnah lebih baik tidak bicara dari pada bohong dalam politik menghalakan segala cara.ini di haramkan dalam islam .apalagi organisasi berbaju islam memakai.pola politik .sama dengan membawa islam dengan ajaran plato sebagai nabinya .mungkin sebagian besar tokoh politik islam yg berbaju islam kurang paham masalah perbedaan siyyasah dan politik .sehingga ini yang akan membawa bencana bagi kemanusiaan .kalau saya pribadi tidak menilai tokohnya atau organisasinya walau ikhwanul muslimin mendunia atau hizbut tahrir mendunia .tapi kelihatan kendaraannya yang di pakai politik atau siyyasah.dan ini penting.karena islam tidak menentukan hasil karena hasil itu ketentuan Allah .kalau kendaraanya politik ya monggo .meraih kekuasaan dengan menhalal segala cara dan tidak mengutamakan rasa kemanusiaan. Islam terpecah 73 golongan itu bukan kehendak manusia kok itu ketentuan Allah.yg terpecah itu bukan masalah muamalah.73 golongan kalau masalah syariat Islam pasti satu. yang berbeda masalah khilafiah .yg hebat kalau mengkafirkan golongan lain .kalau masalah kafir atau tidak itu urusan Allah.Hanya Allah memberi petunjuk .Kalau kita takut ke pada manusia lebih dari Allah.Dan Allah memasukkannya kafir di SisiNya .Walau kita sendiri tidak menyadarinya .wassalam .