Friday, 26 July 2013

PERMAINAN SELESAI, SYRIA

Koran berpengaruh Inggris, The Telegraph hari Selasa lalu (23/7) membuat laporan tentang berbondong-bondongnya pemberontak Syria meletakkan senjata untuk menerima tawaran amnesti yang ditawarkan pemerintah.

“Growing number of rebels are signing up to a negotiated amnesty offered by the Assad regime,” demikian tulis The Telegraph dalam laporan tersebut.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa "para pemberontak telah tertipu oleh pemberontakan" dan "kelelahan setelah lebih dari 2 tahun konflik". Lebih jauh laporan tersebut bahkan menyebutkan bahwa "para pemberontak merasa telah kalah perang".

Laporan seperti ini oleh satu media besar barat tentu tidak akan pernah terjadi satu atau dua bulan lalu ketika "harapan" untuk memenangkan pemberontakan masih ada. Tidak ada yang lain, kecuali barat memang telah merasa kalah dalam konflik yang didukungnya di Syria.

Memang demikian adanya. Pers barat, yang pada awal konflik Syria menggambarkan para pemberontak sebagai "pejuang demokrasi" atau "singa tauhid", secara menyolok mengubah pandangannya dengan menggambarkan mereka sebagai "teroris fanatik yang saling membunuh". Hal ini hanya satu tanda bahwa Amerika telah meninggalkan ide untuk menggulingkan Bashar al Assad dan tengah bersiap-siap memasuki perundingan Genewa II.

Padahal pada tgl 13 Juni lalu jubir National Security Council Amerika menyatakan bahwa regim Syria telah melanggar garis merah dengan menggunakan senjata kimia, sebagaiman tuduhan Perancis dan Inggris sebelumnya. Saat itu para analis telah memastikan bahwa perang akan semakin membesar dengan melibatkan Amerika dan NATO. Apalagi kemudian Amerika mengerahkan pasukan di perbatasan Yordania dan pangkalan komando pun diaktifkan di Izmir (Turki).

Sebulan kemudian media-media massa barat gencar memberitakan bahwa gerombolan pemberontak di Syria ternyata didominasi oleh para teroris yang dibenci oleh mayoritas rakyat Syria. Sementara di medan peperangan para pemberontak dari kelompok Free Syrian Army terlibat pertempuran sengit melawan Al-Nusra Front.

Selain itu, setelah Amerika "menurunkan" ancaman dari intervensi langsung menjadi pemberian senjata ke pemberontak (setelah para jendral Amerika yang realistis menolak), implementasi-nya pun tidak seperti yang diharapkan para pemberontak. Mereka dijanjikan dengan senjata anti-tank, namun ternyata hanya menerima mortar 120 mili. Mereka juga dijanjikan pesawat, namun ternyata hanya menerima Kalashnikov. Senjata-senjata itu memang datang dalam jumlah besar, namun tidak berguna menghadapi senjata berat regim Syria melainkan untuk para pemberontak saling membunuh hingga tidak ada lagi yang tersisa di antara mereka.

Dan inilah yang sebenarnya terjadi sebelum munculnya berita-berita tentang peletakan senjata besar-besaran para pemberontak: Direktur CIA John Brennan dan wapres Joe Biden, melakukan kesepakatan rahasia untuk tidak mengirim senjata mematikan ke pemberontak Syria. Sementara di London dan Paris, para pejabat dan politisi ramai-ramai menurunkan tensinya terhadap semangat memperkuat pemberontak.

Tanpa sungkan-sungkan menlu Perancis Laurent Fabius yang pada akhir tahun lalu memprotes Amerika karena memasukkan kelompok Al Nusra dalam daftar teroris dengan alasan "mereka berguna di lapangan", menuntut PBB untuk memasukkan kelompok yang sama dalam daftar teroris. Dan Manuel Valls, mendagri Perancis kepada televisi France 2 mengatakan dengan tegas bahwa warga Perancis yang turut bertempur di Syria di pihak pemberontak, akan dijerat hukum saat mereka kembali.

Dan pelan namun pasti perhatian internasional pun kini tertuju pada konperensi Geneva II yang sempat ditinggalkan Amerika dan kawan-kawan. Hambatan utamanya adalah National Coalition, kelompok payung pemberontak yang didukung Qatar, serta penolakan Perancis dan Inggris atas keterlibatan Saudi Arabia dan Iran dalam komperensi itu.

Bulan Agustus nanti Iran telah memiliki presiden baru yang lebih moderat dan diterima barat. Sementara Amerika telah mendepak Qatar, negara kecil namun kaya dan ambisius yang menjadi penyandang dana gerakan Ikhwanul Muslimin di Timur Tengah, dari panggung permainan dan menyerahkannya kepada Saudi Arabia. Sejak Qatar "muncul" ke arena politik internasional, Saudi memang memandangnya sebagai saingan. Faktor ini juga yang mungkin menjadi pendorong Amerika mengkudeta Emir Qatar dan menggantinya dengan penguasa baru yang "tahu diri" di hadapan Saudi.

Dalam konperensi Geneva II ini diperkirakan Amerika dan Rusia akan saling "berbagi" pengaruh di kawasan Timur Tengah menjadi 2: negara-negara di bawah pengaruh Saudi Arabia (termasuk Mesir yang presidennya yang berasal dari Ikhwanul Muslimin, dikudeta) dan negara-negara di bawah pengaruh Iran.

Setelah mendepak Emir Qatar dan meninggalkan pemberontak Syria, Amerika juga bakal meninggalkan Perancis, negara yang selama ini menjadi pemain penting di kawasan Timur Tengah terutama Syria dan Lebanon. Inilah harga yang harus dibayar dalam hukum imperalisme.



REF:
"Soon, no more obstacles to the new Sykes-Picot"; Thierry Meyssan; VOLTAIRE.NET; 25 JULI 2013
“Disillusioned” Opposition Militants in Syria Asking Gov’t Amnesty: Report"; ALMANAR.COM.LB; 24 JULI 2013

4 comments:

abu bakar said...

suara-suara di us meminta kerajaan tidak terlibat lagi menumpahkan darah setelah kalah di irag,afghan, nampaknya tiada pihak yang dapat dilihat dapat membantu us utk menang perang,yg ada cuma berharap perang dpt berlansung lebih lama dgn pemain baru iaitu taliban yg dtg membantu sadara takfiris mereka..seperti kata asad mereka dtg utk dibunuh,jika berada dlm negera sendiri mereka merosakkan negara sendiri sja..agama manakah yang mengajar mereka?

Aisyah Fadiya - De Ngaden Awak Bisa - said...

Tapi kebiadaban mereka masih berlanjut Pak Adi, :'(

http://aisyah-fadiya.blogspot.com/2013/07/takfiri-yang-tak-berhati.html

Deny Dewan said...

Kamunya yg sampah wahai manisan asam...manis manis asam makanan orang ngidam..abis makan muka jadi asem...ha.ha.ha.ha.

Pencinta Ahlul Bait said...

mengatur manusia tak bisa dengan akal fikiran hanya bertumpu pada otak manusia terbatas hal ini sudah di perkirakan oleh rosullah dan apalagi waktu itu negara yang masih muda paska takluknya mekah tentu orang orang yang terbina hanya orang orang yang ada di madinah wasiat rosullul di ghadir khum tentu itu tujuaannya kepemimpinan dengan bimbingan ALLAH namun hal itu tak terlaksana namun baru 1400 tahun kemudian baru muncul tunas islam, mulai priode 1 hijriah sd 700 hijriah masa puncak keemasan islam 701 sd 1400 masa turun islam jatuh sejatuh jatuhnya tepatnya 1979 masehi bertepatan revolusi di iran , lima tahun sebelum itu sdh di dengungkan abad kebangkitan islam tahun itu tepat munculnya .dan untuk menjadi pemimpim harus benar benar bersih dari sikap kesukuan kelompok dan walau kita seorang muslim kalau ada komlpik antara muslim dan non muslim harus bersikap adil kalau kalau muslim salah ya di hukum jadi meletak kan pelaksanaan hukum itu benar benar adil . dan kalau ini sudah di terapkan ini pundamental bagi kepemimpinan umat dan pendidikan agama islam ini yang betul betul di tanamkan sikap toleransi aktif dan akidah di bangun betul betul terjaga dan......Allah akan melindungi tak akan tanggung tanggung ini kerangka dasar contoh nyata iran .terus terang kalau tentara syiria tak akan sanggup melawan konpiransi ini tanpa hisbullah dan iran .dan ada hal yang tak tampak yang membantu hisbullah (tentara Allah ) dan ini dirintis oleh Ayyatulah khomeni pada tahun 1980 iran mengirim ulama dan yang pada saat itu usianya diatas 50 sebanyak 80 orang pakaiannya sangat sederhana kurus kurus ke libanon mereka mengajarkan akhlakkul karimah dan memperkuat akidah dan toleransi aktif dan kesabaran .patuh pada pemimpin cinta akan kemanusiaan, sekeji keji musuh kalau posisi terdesak di beri kesempatan menyerah dan di bina karena balas dendam bukan ajaran kita kalau mereka menyerah tetap kita bunuh Allah akan murka dan itu dua tahun mulai tampak hasinya dan hisbullah sendiri akan jadi tentara internasional wajar mungkin kita orang awam tak tahu.Allah menugaskan Malaikat Yang melidungi orang orang beriman yaitu malaikat Zabaniyah ini terbuti perang 33 hari dilancarkan israil terhadap hisbullah hisbullah di serang darat laut dan udara darat ratusan tank merkava 4 tercanggih di dunia mengepung libanon selatan ratusan serangan udara membombadir serangan angkatan laut rudal rudal dari kapal hasilnya israil kalah total sungguh tak berimbang ini yang membuat trauma israil persenjataan sangat kuat ternyata tak membuat unggul