Thursday, 14 March 2013

SEKALI LAGI KONSPIRASI PEMBUNUHAN PUTRI DIANA

Pada tahun 2000, James Andanson, seorang paparazzi senior Perancis, tewas di dalam mobilnya yang terbakar di satu lapangan milik Departemen Keamanan Perancis di Montpellier. Polisi yang menyidik peristiwa itu menemukan 2 lubang peluru di kepala Andanson. Selanjutnya polisi menyimpulkan bahwa Andanson melakukan tindakan bunuh diri.

Menembak kepala sendiri kemudian membakar mobil. Suatu kesimpulan yang sangat aneh bukan?

Andanson adalah orang yang dicurigai berada di dalam mobil Fiat Uno putih yang oleh banyak saksi disebut-sebut berperan dalam peristiwa kecelakaan yang menewaskan Putri Diana di Paris tahun 1997. Sebagai paparazzi senior, ia tentu termasuk dalam barisan paparazzi yang menguber-uber Putri Diana yang tengah berada di Paris kala itu. Bagi mereka, Putri Diana adalah mangsa yang paling dicari-cari karena satu jepretan kamera saja bisa bernilai ribuan dollar. Namun ia tidak termasuk di antara mereka yang menunggui Diana di Hotel Ritz tempatnya menginap bersama pacarnya, Dodi al Fayed.

Mobil Fiat Uno itu sendiri masih menjadi misteri hingga saat ini, 16 tahun setelah tewasnya Diana. Selama bertahu-tahun institusi kepolisian Perancis yang termasuk paling maju di dunia gagal menemukan Fiat Uno putih yang dicari, apalagi melacak siapa pemiliknya, terlebih lagi siapa yang mengemudikannya pada saat kecelakaan Diana. Hingga akhirnya publik hanya bisa mengira-ira keterlibatan Andanson setelah ia ditemukan tewas misterius.

Itu adalah bagian kecil dari misteri besar kematian Putri Diana. Ada sabuk pengaman yang macet yang membuat Diana mengalami luka benturan akibat tabrakan. Ada rekaman kamera CCTV di dalam tempat kejadian yang hilang. Ada ambulan yang memerlukan waktu hampir 1.5 jam untuk membawa Diana ke rumah sakit terdekat, padahal kondisi lalulintas dinihari sangat sepi. Dan paling menarik tentunya adalah pengakuan Putri Diana dalam bentuk surat tertulis bahwa suaminya tengah merencanakan untuk membunuh dirinya melalui insiden kecelakaan mobil.

Dalam surat yang ditulis Diana untuk seorang pembantu dekatnya itu, tertulis tulisan tangan Diana yang berbunyi, "Suami saya (Pangeran Charles) tengah merencanakan satu kecelakaan pada mobil saya. Rem blong dan luka serius di kepala." Keluhan Diana tersebut terwujud 2 tahun kemudian.

Setelah kematian Diana dan Dodi, ayah Dodi Mohammad al-Fayed yang sangat terpukul dengan kematian anaknya dan curiga kematian tersebut adalah kejahatan konspirasi, membayar Keith Allen untuk membuat film dokumenter berbiaya jutaan dollar tentang tewasnya Diana dan Dodi. Film tersebut diberi judul “Unlawful Killing”, sementara Mohammad al-Fayed sendiri adalah seorang miliarder Inggris keturunan Mesir.

Film ini sudah sempat beredar luas, namun kemudian ditarik sendiri oleh al-Fayed, diduga karena tekanan terhadap dirinya. Tidak mungkin ia menarik film yang telah dibiayainya sangat besar itu tanpa alasan jelas. Youtube! juga menghapus film yang sempat beredar di medianya. Dari film inilah berbagai informasi tersembunyi tentang kematian Diana terkuak ke publik.

Mohammad al Fayed sendiri dalam film tersebut membuat pernyataan bahwa kematian Diana dan Dodi adalah "pembunuhan oleh keluarga kerajaan yang kejam dan rasis". Menurut pendapatnya kerajaan Inggris tidak bisa menerima orang-orang muslim seperti Dodi el Fayed dan anak-anaknya untuk menjadi ayah tiri dan saudara-saudara tiri raja Inggris mendatang. El-Fayed juga mengungkapkan bahwa selama 2 minggu liburan bersama Dodi, Diana terus-menerus mengungkapkan kekhawatirannya bahwa ia akan menjadi korban pembunuhan.

Berbagai kejanggalan juga terjadi di persidangan kasus kematian Diana dan Doni. Meski Diana dalam surat tersebut di atas telah menunjuk Pangeran Charles sebagai terduga, ia sama sekali tidak pernah dimintai keterangannya. Pengadilan Kerajaan "Royal Court of Justice" juga berupaya menggelar persidangan tanpa juri, satu hal yang bertentangan dengan sistem dasar hukum di Inggris. Selain itu pengadilan tersebut juga dipimpin oleh hakim yang sumpah setianya diberikan kepada Ratu Inggris. Dalam hal tersangka adalah anggota keluarga kerajaan, tentu saja pengadilan seperti ini sangat bias.

Seandainya saja standar yang sama diterapkan sebagaimana kasus kematian mantan PM Lebanon Rafiq Hariri, tentu akan dibentuk Pengadilan Internasional. Sayang dalam kematian Diana tidak ada benang merah keterlibatan Hizbollah atau inteligen Iran.

Sekedar tambahan, tidak pernah dalam sejarah kasus kematian seorang mantan pejabat publik seperti Hariri harus diadili oleh Pengadilan Internasional. Bahkan kasus kematian misterius seorang pejabat tinggi aktif negara-negara besar pun tidak pernah diadili oleh Pengadilan Internasional. Tidak ada Pengadilan Internasional atas kematian Presiden Amerika John F. Kennedy, Presiden Mesir Anwar Sadat, PM India Indira Gandhi, Presiden Pakistan Zia ul Haq, termasuk beberapa presiden, perdana menteri dan menteri-menteri Lebanon yang meninggal secara misterius. Namun demi menjerat Hizbollah dan Iran, kematian seorang mantan pejabat tinggi negara kecil berpenduduk 4 juta orang seperti Lebanon, PBB membentuk Pengadilan Internasional.

Dalam kematian Diana, media massa mapan juga memegang peran besar demi menutupi kebenaran. Berita pertama yang mereka sebarkan sebagai penyebab kematian Diana adalah sopir Diana yang mabuk. Hal-hal lain yang bertentangan dengan pendapat mereka, seperti keterangan saksi-saksi, langsung mereka cap sebagai "janggal" dan "teori konspiratif". Mereka bahkan tidak tertarik menggali informasi tentang surat Diana tersebut di atas, atau surat ancaman mantan mertua Diana, Pangeran Phillips kepada Diana.

Menurut penyidikan polisi, mobil Mercedez yang ditumpangi Diana berhasil meninggalkan jauh para paparazzi yang mengejarnya sekeluar dari Hotel Ritz. Namun saat memasuki terowongan, mobil Diana dikepung oleh 4 sepeda motor dan satu mobil Fiat Uno putih misterius. Saat itu tiba-tiba terlihat kilatan cahaya kuat yang membuat sopir Diana kehilangan pandangan hingga menabrakkan mobilnya ke tiang beton. Semua kendaraan itu tidak pernah berhasil diidentifikasi pengemudinya, namun media massa "mapan" terus saja mengatakan bahwa pembunuh Diana adalah para paparazzi serta sopir yang mabok.

Kejanggalan tidak berhenti sampai di situ. Sampel darah pengemudi mobil Diana untuk membuktikan apakah dia mabok saat mengendarai, tidak pernah ditemukan meski sebelumnya telah menjalani otopsi oleh Professor Dominique Lecomte, seorang ahli otopsi pemerintah Perancis. Tuduhan sopir mabok sebagai penyebab kecelakaan juga sangat bertentangan dengan fakta bahwa ia terlihat bugar saat meninggalkan hotel sebagaimana terekam dalam kamera CCTV. Ia juga diketahui hanya mengkonsumsi kurang dari 1/4 jumlah alkohol yang bisa dikategorikan mabok, yaitu 2 botol kecil "Ricards".

Selain surat kepada temannya tersebut di atas, Diana juga pernah mengirim surat kepada pengacaranya yang berisi perasaan ketakutannya terhadap ancaman pembunuhan oleh keluarga kerajaan. Oleh pengacaranya surat tersebut diserahkan kepada polisi, namun oleh polisi justru disembunyikan selama bertahun-tahun. Dan sebagai balas jasa, kepala polisi justru mendapat penghargaan gelar bangsawan oleh ratu Inggris. 


KERAJAAN INGGRIS

Bagian akhir film “Unlawful Killing” berisi serangan frontal pada keberadaan keluarga kerajaan Inggris dengan berbagai dalih, di antaranya pemboros keuangan negara, sikap rasisme serta dukungan mereka kepada regim Nazi Jerman pada awal perang. Serangan juga ditujukan para para pejabat Inggris yang lebih setia kepada raja daripada rakyat Inggris. Lebih jauh film tersebut juga menuduh keluarga kerajaan Inggris tidak berbeda dengan gangster mafia.

Film tersebut juga mengutip pernyataan Pangeran Philip, mertua Lady Diana dan suami Ratu Elizabeth 2 yang pernah mengatakan jika ia ditakdirkan menjalani reinkarnasi maka ia akan memilih untuk menjadi virus yang akan mengurangi over populasi manusia di bumi. Tidak mengherankan karena Philip adalah anggota persaudaraan freemason yang percaya bahwa jumlah ideal manusia di bumi adalah 500 juta orang, dan selebihnya sekitar 5,5 miliar orang harus dilenyapkan.

Film itu juga menampilkan wawancara dengan ahli psikologi Inggris terkenal Oliver James, yang mendeskripsikan Philip sebagai seseorang yang tidak memiliki kepedulian sama sekali pada sesamanya. James menyebut secara psikologis Philip tidak berbeda dengan pembunuh psikopat.

Namun sayangnya film tersebut tidak menyebutkan bahwa Dinasti Windsor yang kini menguasai tahta Inggris sebenarnya sama sekali bukan orang Inggris. Mereka berasal dari Jerman yang bahkan pendahulunya, Raja George I, tidak bisa berbahasa Inggris saat dilantik sebagai raja. Mereka berhasil merebut tahta dari keluarga kerajaan Inggris yang syah, yaitu Dinasti Stuart, berkat konspirasi penguasa rahasia global, yaitu orang-orang yahudi kaya penyembah berhala. Tentang bangsa Inggris dan konspirasi jahat yang pernah menimpa mereka, silakan lihat di buku "Konspirasi Iblis" yang segera terbit.


Keterangan gambar: Ratu Elizabeth 2 keluar dari rumah sakit King Edward VII Hospital setelah menjalani perawatan baru-baru ini. Rumah sakit yang sama dimana seorang pegawainya akhir tahun lalu menjadi "korban pengorbanan ritual" namun oleh media disebut sebagai "bunuh diri karena menanggung malu". Lihatlah emblem pada sabuk yang digunakan perawat di samping ratu, yaitu emblem persaudaraan rahasia freemason kalau selama ini Anda phobi terhadap segala hal yang berbau "teori konspirasi". Dan bila Anda juga menganggap remeh arti sebuah simbol, silakan baca bukunya tokoh psikoanalisis terkemuka Carl Gustav Jung, "Man and His Symbols".

3 comments:

bangkai kapal said...

dimana saya bisa mendapatkan buku konspirasi iblis dan film “Unlawful Killing”..????
dan buku tentang simbol simbol tersebut..??
trms.

cahyono adi said...

Buku "konspirasi iblis" insya
Allah segera diterbitkan blogger. Film Unlawful Killing sudah ditarik dari peredaran oleh pembuatnya sendiri, juga ditarik dari youtube! Silakan coba searching sendiri di internet. Buku "Man and His Symbols" bisa dipesan di amazon.com

Nahdalia a said...

baru sadar kalo simbol belt-nya simbol iluminati