Monday, 13 May 2013

EYANG SUBUR SUDAH HABIS, BACKINGNYA BELUM (2)

Sebenarnya saya sudah tidak ingin lagi menulis tentang Eyang Subur, berharap bahwa setelah terbuka "kedok"-nya, para pendukung Eyang Subur akan mengundurkan diri. Namun keinginan itu saya urungkan setelah melihat acara "Just Alvin" di Metro TV hari Minggu malam (12 Mei).
Dari dulu sebenarnya saya tidak menyukai acara yang dibawakan host bernama Alvin ini. Tidak saja cenderung mempromosikan liberalisme, acara ini juga mempromosikan hal-hal sesat seperti gaya hidup tidak menikah, homoseksualisme. Terakhir, dalam acara kemarin, acara ini bahkan mempromosikan gaya hidup sesat Eyang Subur dengan menampilkan 7 istri Eyang Subur sebagai bintang tamu.

Saya tidak mengenal siapa si Alvin pembawa acara "Just Alvin". Tapi dari gaya dan gerak-geriknya saya cenderung untuk mengatakan yang bersangkutan mengalami kecenderungan penyimpangan seksual. Dan tipe seperti inilah yang menjadi "kesayangan" yahudi internasional penyembah setan.

Menampilkan 7 istri Eyang Subur dengan gaya acara yang seolah-oleh "membenarkan" gaya hidup Eyang Subur, sebenarnya adalah bentuk pelecehan terhadap umat Islam yang melarang seorang muslim beristri lebih dari 4 orang. Hal ini mengkonfirmasi pernyataan saya dalam tulisan pertama tentang Eyang Subur bahwa media massa terkooptasi zionis internasional telah menjadi pendukung (backing) Eyang Subur dengan misi memprovokasi umat Islam.

Tujuan pertama misi ini adalah "test case" terhadap sensivitas umat Islam terhadap simbol-simbol agamanya. Jika dianggap umat Islam kurang sensitif, atau dianggap kurang solid dalam mensikapi hal ini (pelecehan simbol-simbol Islam), maka bentuk-bentuk pelecehan lebih ekstrem akan dilancarkan. Misalnya saja menginjak-injak simbol Islam seperti pernah dilakukan group musik Dewa, atau membalikkan kata/simbol "Allah" atau "Muhammad". Dan bila pada tahap ini pun ternyata umat Islam tetap bungkam, maka hal ini menjadi simbol kekuatan umat Islam Indonesia telah mati. Pada saat ini zionis internasional dan komprador-komprador lokalnya akan menerapkan peraturan-peraturan seperti yang telah diterapkan di Amerika dan Eropa seperti melarang adzan dikumandangkan (harap dicatat bahwa sebagai pendahuluan Wapres Boediono pernah mewacanakan hal ini), melarang pembangunan masjid, melarang simbol-simbol Islam dipasang di tempat-tempat umum, kantor-kantor, sekolah-sekolah, dan lembaga-lembaga publik sementara pada saat yang sama simbol-simbol zionis justru semakin banyak terlihat dimana-mana. Selanjutnya mereka yang menyuarakan aspirasi anti Israel atau anti semit, atau anti homoseksual, akan dihukum dengan menggunakan undang-undang baru yaitu UU anti-kejahatan kebencian (hate crime).


Apa yang saya sampaikan ini mungkin dianggap terlalu berlebih-lebihan, paranoid dan sebagainya. Namun percayalah, orang-orang kristen Amerika dan Eropa juga awalnya menganggap demikian hingga akhirnya terlambat menyadari, orang-orang yahudi telah membelenggu mereka dengan ketakutan dicap sebagai anti-semit atau "hate crime", sedemikian rupa sehingga ketika tentara Israel membom gereja Nativity (gereja tempat kelahiran Yesus) di Jerussalem, tak seorang Kristen pun yang berani memprotes.

Saya beri contoh lain. 20 tahun yang lalu orang Eropa yang mana yang pernah berfikir bahwa "paguyuban" Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) akan berubah menjadi negara super yang memiliki pemerintah sendiri, parlemen sendiri, undang-undang sendiri dan tentara sendiri yang bisa menyerang, menduduki dan menjajah negara Eropa yang membangkang? Kini hal yang "teori konspirasi" itu sudah terjadi.

Lihatlah, bagaimana media massa yang dahulu mencerca habis-habisan Aa Gym karena poligami kini diam seribu bahasa bahkan cenderung membela Eyang Subur yang beristri 8. Hal yang sama dilakukan para feminis dan aktifis pembela HAM. Masalahnya adalah Aa Gym berpoligami sesuai hukum Islam sedang Eyang Subur tidak. Maka Aa Gym harus dicerca sementara Subur dibela.



Keterangan gambar: Global TV awalnya dimiliki oleh organisasi Islam ICMI dan dimaksudkan untuk menjadi stasiun pembawa aspirasi umat Islam. Namun kini justru dikuasai oleh konglomerat keturunan Tionghoa non-muslim Hary Tanoe dengan misi menyebarkan kesesatan Eyang Subur. Nasibnya hampir sama dengan Harian Republika yang kini dimiliki oleh pengusaha Eric Thohir dari keluarga pemilik Group Astra.

2 comments:

Unknown said...

"Adem ayemnya" kalangan feminis sekuler yg antipoligami jelas sangat aneh sekaitan dgn kasus Eyang Subur.

Saya tertarik dgn info Global TV yg semula didirikan oleh ICMI. Bisalah Penulis mengulas hal tsb? Termasuk bagaimana Global TV lepas dari tangan ICMI?
Salam 'alaykum.

rubin nugra said...

Ulama indonesia pandai bercerita tentang amar ma'ruf. Ngajak sholat,sholawat,sedekah,zakat dll. Tapi ketika nahi mungkar mereka enggan dan takut. Takut dimusuhi.....takut bentrok, alasannya islam kan rahmatan lil alamin. klo takut dimusuhi ya jangan jd ulama bro. Jadi inovator aja duitnya lbh bnyk. Klo jd ulama hrs siap dimusuhi dlm menyampaikan kebenaran. Lihat nabi dan sahabat, untuk menyampaikan kebenaran beliau dimusuhi sa bangsa arab sampe berperang segala. Tapi beliau tidak takut krn Alloh pasti menolong. Ulama indonesia, mau Alloh di hina, nabi dihina, katanya tenang jangan terpancing, yg penting damai, dan tdk melakukan apa 2. Acara tivi acakadul juga mereka diam diam aja. Mengartikan Rahmatan lil alamin yang salah.