Thursday, 11 April 2013

DING-DONG! AKHIRNYA TUKANG SIHIR ITU MATI

Hampir tidak ada hal-hal buruk yang ditulis oleh media massa mapan termasuk di Indonesia tentang Margaret Thatcher, baik selama menjadi perdana menteri Inggris hingga setelah meninggalnya. Maka saya agak terkejut setelah mendapatkan berita-berita tentang rakyat Inggris yang berpesta pora merayakan kematiannya. Tidak hanya itu, lagu “Ding Dong! The witch is dead” yang oleh publik diasosiasikan dengan kematian Thatcher, terdongkrak popularitasnya hingga muncul sebagai lagu terlaris di Inggris saat ini.

Menyusul pengumuman kematian Thatcher hari Senin (8/4) akibat stroke, sebagian rakyat di kota-kota seperti Glasgow, London, Belfast, Manchester hingga kota-kota yang lebih kecil, menyelenggarakan pesta jalanan. Kata-kata "witch" atau tukang sihir juga menjadi kata yang laris digunakan di media online sebagai kata ganti untuk Thatcher. Maka tidak terlalu mengherankan jika kemudian lagu “Ding Dong! The witch is dead” yang dinyanyikan Judy Garland muncul sebagai lagu terlaris di toko online terbesar Amazon.com  sementara versi lainnya yang dinyanyikan Ella Fitzgerald menjadi lagu terlaris yang didownload melalui iTunes UK.

Kalimat “The Witch is Dead” juga menjadi tema utama yang tertulis di spanduk-spanduk dan  banner yang diusung para peserta pesta jalanan memperingati kematian Thatcher yang digelar di Brixton, selatan London.

Kesuksesan lagu "Ding-Dong! ..." didongkrak pula oleh akun Facebook bernama “Is Margaret Thatcher Dead Yet?” yang mendapatkan sekitar 40.000 like.

Terlepas dari itu semua Margaret Thatcher merupakan perdana menteri yang paling dikenal oleh rakyat INggris. Sebuah survey yang digelar lembaga pooling "YouGov" menunjukkan sebanyak 28 persen rakyat INggris percaya Thatcher adalah perdana menter terbaik di antara 13 perdana menteri Inggris sejak tahun 1945. Sebanyak 48 persen responden juga menganggapnya telah berhasil menjadikan ekonomi Inggris menjadi lebih baik.

Selama menjadi perdana menteri Thatcher tidak pernah memenangkan lebih dari 1/3 suara pemilih yang mengantarkannya menjadi perdana menteri tahun 1979 hingga tahun 1990, saat ia dipecat dari kepemimpinan Partai Konservatif setelah muncul kemarahan publik akibat kebijakan fiskal yang tidak populer.


LEGASI KRIMINAL

Pada tahun 1981, 10 orang pejuang kemerdekaan Irlandia Utara yang dipimpin oleh Bobby Sands, meninggal dunia akibat aksi mogok makan yang mereka lakukan menuntut kebebasan politik di wilayah Irlandia Utara yang diduduki Inggris.

Bobby Sands adalah seorang pemimpin yang populer di kalangan rakyat Irlandia Utara yang menginginkan diakhirinya pendudukan Inggris. Ia dan rekan-rekannya menuntut agar diberikan status sebagai tahanan politik, bukan kriminal. Untuk itulah mereka melakukan aksi mogok makan. Namun perdana menteri Margareth Thatcher menolak tuntutan tersebut dan bersikukuh menggolongkan mereka sebagai kriminal meski selama 50 hari mereka menahan lapar dan akhirnya meninggal.

Itu adalah sebagian dari legasi kriminal yang ditinggalkan Margareth Thatcher yang oleh media massa dipuji-puji sebagai "Wanita Besi" dan dielu-elukan para pemimpin barat yang sebenarnya menyandang gelar yang sama, "penjahat perang" karena kebijakan perang ilegal di Irak dan Afghanistan.

Legasi kriminal lainnya begitu menumpuk. Salah satunya adalah perintahnya menenggelamkan kapal perang Argentina General Belgrado bersama ratusan awaknya saat terjadi konflik Malfinas pada tahun 1982. Padahal General Belgrado tengah tidak berada pada zona perang yang ditetapkan Inggris sendiri.

Ketika terjadi krisis Malfinas, Thatcher memutuskan berkolusi dengan jaringan media massa milik taipan media Rupert Murdoch (operator kepentingan kekuasaan keluarga Rothchild) untuk mengobarkan daripada melakukan negosiasi.

Dengan memilih perang, Thatcher telah mengorbankan ratusan nyawa prajurit Inggris dan Argentina demi meraih popularitas sehingga terpilih kembali menjadi perdana menteri. Namun deklarasi perang juga dilakukan Thatcher terhadap rakyatnya sendiri dengan menghancurkan industri pertambangan batubara yang telah menghidupi jutaan rakyat Inggris selama ratusan tahun. Semuanya demi melayani kepentingan bisnis para kapitalis besar.

Dengan slogannya yang terkanal: “tidak ada sesuatu yang disebut masyarakat", Thatcher mendeklarasikan perang terhadap apa yang disebut sebagai "musuh dalam selimut", yaitu industri pertambangan batubara Inggris yang menjadi tulang punggung kehidupan jutaan rakyat Inggris selama berabad-abad. Kejahatan seorang pemimpin yang memerangi rakyat sendiri tentu lebih besar daripada pemimpin yang "sekedar" menjadi agen kepentingan asing. Namun keduanya sama-sama terjadi pada para pemimpin yang telah mengalami kebangkrutan moral.

Selama lebih dari setahun sekitar tahun 1984 Thatcher telah membunuh komunitas-komunitas penambang batubara di utara Inggris. Dengan menggunakan tentara ia menutup tambang-tambang batubara sekaligus membuat kelaparan jutaan penambang dan keluarganya. Dengan menggunakan media massa Thatcher mendelegitimasi pemimpin penambang Arthur Scargill dan pengikut-pengikutnya.

Perang kelas sosial yang dilancarakan Thatcher masih berlangsung hingga saat ini, menjadikan kesenjangan sosial ekonomi sebagai masalah serius saat ini. Bahkan jika ditelusuri, sistem ekonomi global yang destruktif saat ini, tidak lepas dari peran yang telah digali pondasinya oleh Thatcher dan koleganya di Amerika, Ronald Reagan.

Adapun "kebijakan" Thatcher atas Irlandia Utara merupakan legasi kriminal terbesar yang ditinggalkannya. Akibat kebijakannya yang anti-negosiasi, ribuan nyawa telah melayang selama bertahun-tahun. Salah satu korban tersebut adalah pengacara asal Belfast Pat Finucane, yang banyak melakukan pembelaan terhadap para pejuang kemerdekaan Irlandia Utara. Ia tewas setelah ditembak sebanyak 12 kali oleh polisi rahasia Inggris di hadapan anak dan istrinya pada bulan Februari 1989.

Laporan-laporan menyebutkan bahwa Thatcher menderita penyakit syarat otak yang menghancurkan memorinya, Alzheimer. Dengan upacara pemakaman seharga puluhan miliar rupiah elit penguasa Inggris yang mewarisi kebijakan-kebijakannya, termasuk melakukan perang ilegal di Irak dan Afghanistan sembari menggelontorkan puluhan miliar pound dana talangan untuk para bankir atas beban rakyat, tampaknya ingin menghapuskan memori legasi kriminal Thatcher.



REF:
"Anti-Thatcher songs sell like hotcakes"; Press TV; 10 April 2013
"Margaret Thatcher’s criminal legacy"; Finian Cunningham; Press TV; 9 April 2013

1 comment:

endra poerwadi said...

Habis tukang sihir mati, kapan penggantinya si"tukang sulap" mengikuti....... saya akan sujud syukur kepada sang pencipta langit dan bumi bila si tukang sulap meninggal apalagi dengan sejuta penyesalan (tidak bisa meninggal dengan tenang)