Sunday, 16 June 2013

ERDOGAN SEGERA MENYUSUL MUBARAK? (3)

Bocornya video rekaman tersebut ke publik membuat kecurigaan lawan-lawan politiknya semakin mengarah padanya. Faktanya pada tahun 2000
ia dijatuhi hukuman penjara dengan dakwaan berupaya mengubah dasar negara sekuler menjadi Islam. Namun pada saat itu Gulen telah berada di Amerika dan mendapatkan perlindungan penuh para pejabat Amerika.

Para pengikut Gulen yang disebut sebagai "jemaat" disebut-sebut sebagai kekuatan politik ketiga di Turki setelah partai penguasa Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) dan militer. Struktur organisasi "jemaat" sendiri sangat misterius. Para pengurus maupun anggota cenderung menyembunyikan keberadaan "jemaat". Gulen sendiri menyebut gerakannya sebagai "Hizmet" atau "pengabdian" yang tidak memiliki struktur organisasi jelas karena bukan organisasi formal. Para "jemaat" menganggap mereka hanya disatukan oleh inspirasi yang diberikan Gulen.

Beberapa mantan pengikut Gulen yang "murtad" menyebut organisasi "jemaat" sangat kuat, hirarkis dan otoriter. Sebagian lainnya menyebut sebagai kelompok okultis (kelompok rahasia yang mempraktikkan perdukunan). Gulen yang disebut pengikutnya sebagai "Hocaefendi" atau "Tuan Guru" merupakan pemimpin tertinggi satu-satunya dengan masing-masing kelompok pengikut dipimpin oleh seorang "abis" atau "saudara tua". Masing-masing kelompok terpisah dari kelompok lainnya. Para "abis" memiliki kekuasaan besar atas kelompoknya, termasuk dalam menentukan pernikahan anggota-anggota kelompoknya. Dan bagi "jemaat", anggota dari keluarga kaya dan berpengaruh merupakan asset penting pendukung finansial organisasi.

Ilhan Tanir, seorang jurnalis Turki yang "murtad" dari kelompok ini mengatakan tentang "jemaat":

"Mencampur adukkan hal-hal gaib dengan dunia nyata, kelompok ini melihat kelompok mereka sebagai "pemilik kebenaran" dan "yang terberkahi" yang diliputi dengan kegaiban. Itulah sebabnya “Itaat” atau kesetiaan menjadi kharakter paling penting bagi semua anggota. Hidup lama dalam lingkungan seperti itu membuat seseorang menjadi takut pada dunia luar dan lemah untuk hidup di dunia nyata."

Lebih jauh Tanir menambahkan bahwa misi "kegaiban" yang disandangnya membuat semua anggota akan menjalankan setiap misi yang diembankan hingga tercapai betapapun resiko maupun ongkosnya."

Di sisi lain, dimanapun gerakan "jemaat" eksis, mereka mengikuti satu pola yang sama, yaitu memanfaatkan setiap kesempatan untuk bisnis dan kekuasaan, sangat eksklusif dan tertutup. Dalam tingkat tertentu para anggota bahkan mengabaikan ikatan keluarga demi untuk memenuhi kewajiban organisasi, sama seperti kelompok LDII di Indonesia, misalnya.

Terkadang, mereka bangga dengan kesetiaan buta para anggotanya. Pada tahun 2010 jurnalis Amerika Suzy Hansen dari media "The New Republic" mengutip pernyataan Bekir Aksoy, seorang tokoh "jemaat" di Amerika yang bermarkas di pusat gerakan "jemaat" di Amerika yang terletak di Saylorsburg, Pennsylvania, bernama Golden Generation Worship and Retreat Center, sbb:

“Orang-orang kami tidak pernah mengeluh. Mereka mematuhi semua perintah dengan sepenuhnya. Jika seorang anggota yang bergelar Ph.D. dan memiliki karier cemerlang datang ke Hocaefendi (Gulen), dan Hocaefendi memerintahkan padanya untuk membangun perkampungan di kutub utara, maka keesokan harinya orang itu akan mulai menjalankan perintah itu."

Pemerintah Belanda pernah mengadakan penyidikan terhadap keberadaan kelompok ini negeri mereka karena dianggap mengganggu keutuhan masyarakat. Sementara pemerintah Rusia menutup sekolah-sekolah "jemaat" karena dianggap menjadi mata-mata dinas inteligen Amerika CIA.

Tahun lalu "Today’s Zaman" mengutip pernyataan Gulen yang kontroversial tentang etnis Kurdi yang telah terlibat konflik politik dengan pemerintah Turki selama puluhan tahun.

“Balikkan rumah mereka, hancurkan persatuan mereka, bakar sampai menjadi abu, semoga rumah-rumah mereka dipenuhi dengan tangisan, potong dan bakar kebun-kebun mereka dan hentikan masalah-masalah yang mereka timbulkan."

Pernyataan tersebut tentu saja memancing kemarahan masyarakat terutama etnis Kurdi. "Zaman" dan Gulen mencoba mengelak dengan menyebut pernyataan tersebut hanya ditujukan untuk anggota Partai Pekerja Kurdi, namun bagaimanapun hal itu telah menimbulkan keresahan sosial.

Pada bulan Juni 2007 media-media massa Turki dimotori "Zaman" memberitakan temuan polisi pada sebuah komplotan rahasia bernama Ergenekon. Komplotan yang disebut-sebut beranggotakan sekelompok perwira militer, wartawan senior, dinas inteligen, hakim dan organisasi kriminal ini dituduh bersekongkol untuk melakukan kudeta.

Sejak saat itu ribuan warga Turki ditangkap oleh polisi, termasuk beberapa perwira tinggi, akademisi, tokoh agama dan wartawan. Tahun 2009 gelombang penangkapan terjadi lagi dengan sasaran tokoh-tokoh Kurdi, pangacara dan akfitis kiri. Pengamat yang menyaksikan proses penyidikan dan pengadilan atas para tersangka ini mendapatkan begitu banyak kejanggalan-kejanggalan. Namun terlepas dari itu semua, paska penangkapan-penangkapan massal itu, partai pengusa AKP semakin melejit tak tertandingi kekuatan-kekuatan politik lain.

Sementara itu Gulen, menghindari proses pengadilan atas kasusnya, semakin betah tinggal di Amerika. Di negeri ini ia mendapat "perlindungan" dari banyak tokoh penting seperti presiden Bill Clinton dan menlu James Baker. President Obama pun pernah mengunjungi sekolah Gulen, "Pinnacle School" di Washington, D.C.. Figur-figur penting lain yang menjalin hubungan dekat dengan Gulen adalah mantan pejabat CIA dan wakil ketua National Intelligence Council Graham Fuller,  mantan pejabat CIA George Fidas serta mantan dubes Amerika di Turki Morton Abramowitz.

Dengan koneksinya itu Gulen membangun jaringan yayasan dan lembaga pendidikan terbesar di Amerika. Sharon Higgins, pendiri organisasi nirlaba Parents Across America menghitung jumlah sekolah milik "jemaat" di Amerika mencapai 135 sekolah dengan jumlah murid mencapai 45.000 pelajar, mengungguli saingan terdekat yang hanya memiliki 109 sekolah. Sekolah-sekolah yang tersebar di 25 negara bagian itu memiliki nama-nama seperti Horizon Science Academy, Pioneer Charter School of Science, Beehive Science and Technology Academy. Para pengurus sekolah menolak kaitan mereka dengan Gulen dan Gulen pun membantah rumor itu. Namun sekoilah-sekolah tersebut secara nyata mendapat bantuan dari kelompok-kelompok "jemaat" yang tersebar luas di Amerika. Misalnya saja sekolah Horizon Science Academy di Springfield, mendapat bantuan gedung dari Chicago’s Niagara Foundation yang secara eksplisit mempromosikan filosofi Gulen yang mempromosikan “toleransi, dialog dan perdamaian.”

***

Ada beberapa kejanggalan atas peristiwa kerusuhan yang kini tengah melanda Turki. Negara-negara barat dan Amerika secara kompak mengecam keras tindakan aparat keamanan Turki dan karena itu juga perdana menterinya, Erdogan. Namun yang paling janggal adalah sikap pemerintah Amerika. Beberapa komentar keras dilakukan para pejabat Amerika terhadap penanganan kerusuhan di Turki.

Berbeda dengan reaksi keras Erdogan terhadap para perusuh, Amerika menganggap aksi demonstrasi adalah hal yang wajar. Sebaliknya Amerika justru mengkritis keras tindakan aparat keamanan yang dianggap "berlebihan" dan menuntut dilakukannya penyidikan atas terjadinya aksi kekerasan oleh aparat.

"Kami konsern oleh laporan-laporan penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh polisi. Kami tentu berharap adanya penyidikan atas hal itu dan adanya sikap menahan diri dari polisi terhadap insiden-insiden itu. Kami mendesak semua orang yang terlibat.... untuk menghindarkan diri dari provokasi dan kekerasan," kata menlu John Kerry.

Reaksi ini dianggap "berlebihan" mengingat dekatnya hubungan Erdogan dengan pemerintah Amerika, atau setidaknya demikian penilaian publik. Belum hilang dalam ingatan publik bagaimana Erdogan menjadi tamu spesial Obama hanya beberapa minggu sebelum terjadinya aksi kerusuhan yang ditandai dengan sikap "lebay" Obama dan Erdogan yang memerintahkan prajurit marinir untuk memayungi mereka dalam acara jumpa pers.

Keanehan lebih menyolok lagi di Turki. Hanya beberapa jam setelah Erdogan terbang ke Afrika Utara dalam misi diplomatik yang telah direncanakan lama, di tengah-tengah aksi-aksi demonstrasi yang semakin marak, Wakil PM Bulent Arinc mengadakan pertemuan dengan Presiden Abdullah Gul di Istana Kepresidenan di Ankara. Tidak lama kemudian, secara demonstratif, keduanya menunjukkan perbedaan sikap menyolok dengan Erdogan terkait aksi kerusuhan.

Sejak awal Erdogan mengecam keras aksi-aksi demonstrasi yang ditujukan pada pemerintahannya. Ia bahkan dengan kasar menyebut para demosntran sebagai "perusuh" dan "tukang jarah". Namun sebaliknya Arinc, secara terbuka menyatakan aksi-aksi demonstrasi sebagai "benar dan legitimet" dan tindakan polisi adalah "brutal". Ia juga menemui para demonstran dan menyatakan permintaan ma'af secara langsung kepada mereka.

Selain itu Presiden Gul menerima kunjungan para pimpinan partai oposisi Republican People’s Party yang oleh Erdogan justru dituduh sebagai provokator kerusuhan. Dan ketika Erdogan membanggakan kemenangan partainya dalam pemilihan legislatif terakhir yang memberikan kewenangan bulat bagi Erdogan untuk menjalankan program-programnya, Gul justru mengingatkan bahwa demokrasi lebih dari sekedar memenangkan pemilihan.

Memang, semakin lama Erdogan berkuasa, para elit politik hingga sebagian warganegara melihatnya sebagai tokoh otoriter. Sebagai pembanding mereka melihat Gul sebagai tokoh alternatif yang lebih bisa diterima daripada Erdogan.

Yang menarik adalah bahwa Erdogan, Gul dan Arinc adalah tokoh-tokoh yanga dianggap sebagai "pendiri" partai AKP, dan selama ini mereka bertiga berada di balik bayang-bayang gerakan Fethullah Gulen.


(Bersambung)


REF:
"Is Erdogan’s political honeymoon nearing its end?"; Anthony Mathew Jacob; Press TV; 9 Juni 2013
"Who Is Fethullah Gulen?"; Claire Berlinski; City Journal
"Et tu, Gul? Then fall, Erdogan"; M K Bhadrakumar; Asia Times; 5 Juni 2013
"Erdogan risks the ’must go’ path"; Pepe Escobar; Voltaire Network; 4 Juni 2013

1 comment:

Ibnu Sofyan Hasan said...

mas adi, sekedar perbandingan coba mas adi baca tulisan seorang Mahasiswa Master, Jurusan TEFL, Istanbul University. disini :
http://www.pkspiyungan.org/2013/06/istanbul-perang-non-fisik-zeytinburnu-1.html
bagaimana pendapat mas adi?