Sunday, 23 June 2013

PERANG YANG LAIN DI SYRIA

Berbagai sumber menyebutkan bahwa konflik Syria hampir dipastikan akan segera berakhir setelah tiga kekuatan yang paling berpengaruh dalam konflik ini, yaitu Amerika, Rusia dan Iran secara diam-diam telah sepakat untuk membiarkan regim Bashar al Assad tetap berkuasa hingga pemilu tahun depan. Di sisi lain, Amerika, maksudnya adalah zionis kapitalis internasional, telah mempersiapkan strategi baru, yaitu menguasai kendali ekonomi Syria paska konflik, sekaligus mengurangi ancaman terhadap Israel. Namun hal itu tidak mudah untuk direalisasikan karena nasionalisme rakyat Syria yang tengah membuncah saat ini.

Demikian tulis kolumnis terkenal Franklim Lamb pada media online "Foreign Policy Journal" tgl 23 Juni lalu berjudul "The Obama Administration prepares a “Marshall Plan” to reconstruct Syria, but not for the Syrians". Analisis dalam tulisan tersebut sebenarnya telah dikuatkan oleh pernyataan Presiden Bashar al Assad dalam wawancara dengan media asing baru-baru ini yang menyebutkan bahwa Amerika dan IMF telah menawarkan "bantuan baik hati" senilai puluhan miliar dolar kepada dirinya, namun tawaran tersebut ditolaknya.

Dalam program rekonstruksi yang disamarkan sebagai "bantuan kemanusiaan" tersebut Amerika hendak meniru program "Marshall Plan", program bantuan besar-besaran untuk negara-negara Eropa paska Perang Dunia II. Kala itu Amerika mengeluarkan dana hingga $13 miliar, atau setara $100 miliar saat ini untuk mentata kembali Eropa Barat dari kehancuran perang. Sedangkan untuk Syria, diperkirakan Amerika dan lembaga-lembaga keuangan internasional termasuk negara-negara Teluk, akan menyediakan dana hingga $300 miliar dengan imbalan hak kepemilikan di berbagai sektor publik Syria sebagai jaminannya.

Untuk memuluskan rencana tersebut dikabarkan Amerika dan negera-negara Teluk telah mencoba menyuap beberapa orang penting Syria termasuk Rami Makhlouf, saudara sepupu Presiden Bashar al Assad. Seorang pejabat penting lainnya yang tidak bersedia menyebutkan namanya mengaku kepada Franklin Lamb bahwa ia telah diiming-imingi $50 juta, namun ditolaknya mentah-mentah.

"Berapapun jumlahnya, uang tidak akan bisa memisahkan ikatan suci bangsa Syria," kata pejabat tersebut kepada Lamb.

Menurut Franklin Lamb, Rami Makhlouf telah ditawari untuk menjadi pejabat tinggi departemen keuangan Amerika, namun ia sama sekali tidak menjawab tawaran tersebut. Menurut pengakuannya, ia telah berulangkali mengalami percobaan pembunuhan akibat sikapnya yang kukuh membela pemerintahan Syria. Dan alih-alih mengikuti kemauan Amerika, Makhlouf yang merupakan ketua asosiasi pengusaha Syria itu mengalihkan sebagian besar kekayaannya untuk membantu rakyat Syria yang tengah menderita dengan menciptakan proyek-proyek padat karya dan memberikan pinjaman ringan bagi para pengusaha kecil, hingga menyediakan perumahan bagi para pengungsi. Ia juga telah menyisihkan sebagian sahamnya di perusahaan telekomunikasi untuk yayasan-yayasan amal.

Menurut keterangan beberapa diplomat barat di Lebanon (Franklin Lamb tinggal di sana) sebagian pengusaha kaya Syria telah menjadi korban sanksi ekonomi yang dikenakan Amerika Cs. terhadap Syria. Dan kini mereka menjadi target Amerika karena peran mereka yang cukup signifikan dalam membantu pemerintah memperbaiki kondisi sosial ekonomi yang luluh lantak akibat perang. Amerika menganggap Makhlouf dan para pengusaha Syria lainnya bisa membantu pemerintah Syria mengumpulkan dana internaional bagi pembangunan Syria tanpa tergantung pada Amerika Cs, dan karena itulah ia menjadi target.

Salah satu cara untuk "menyingkirkan" Makhlouf adalah melalui kampanye hitam media massa.

Kampanye propaganda hitam terhadap Mahhlouf, menurut sumber-sumber di Washington, telah melalui persiapan matang dan mencakup berbagai bentuk visual (televisi), audio, dan media cetak. “Hampir pasti dibiayai oleh Qatar dan Saudi Arabia, keduanya bersama-sama partner mereka di barat yang merancang proyek tersebut, melihat Makhlouf sebagai hambatan utama bagi rencana mereka menguasai ekonomi Syria sebagai bagian dari "perang lunak" dimana Amerika dan sekutu-sekutunya di barat dan di Timur Tengah menguasai ekonomi negara-negara Arab tanpa harus menerjunkan pasukan Amerika di tanah Arab atau menghabiskan banyak uang Amerika di kawasan ini.”

Menyasar Rami Makhlouf dan para pengusaha Syria lainnya dengan menggunakan media massa Qatar dan Arab Saudi dan media-media satelit mereka dimaksudkan untuk melemahkan Syria secara ekonomi, karena dengan cara demikian, selain intervensi militer, Syria bisa dihancurkan dengan cepat. Dan Makhlouf serta teman-temannya dianggap telah menghambat rencana tersebut.

Tujuan utama dari Qatar dan negara-negara Teluk, dengan dukungan Amerika, tukan hanya meningkatkan investasi mereka di kawasan sekaligus menyatukan Arab dengan kepentingan Amerika-zionis secara ekonomi dan politik. Proyek ini sebelumnya telah berhasil diterapkan di Libya terlihat dari berdirinya hotel-hotel mewah Corinthian, Radisson, dan Rixos di kota Tripoli hanya beberapa hari setelah kematian Moammar Khadafi. Hal ini terkait juga dengan fakta bahwa inteligen Rusia berhasil mendapatkan informasi bahwa Khadafi dieksekusi secara brutal atas perintah seorang pemimpin negara Teluk demi menghilangkan salah satu hambatan dari rencana mereka menguasai ekonomi Libya.

Namun Rami Makhlouf dan kawan-kawan, sebagaimana ribuan penduduk Syria yang menjadi relawan bulan sabit merah dan sebagian besar rakyat Syria lainnya saat ini bukanlah sasaran yang mudah untuk ditaklukkan. Tidak hanya secara militer, namun juga secara ekonomi. Mereka berdiri kukuh dan tidak lari, sebagaimana beberapa mantan pejabat korup yang membelot.

“Apa yang tengah terjadi di Syria saat ini adalah suatu proyek dari beberapa negara musuh untuk menghancurkan satu negara yang tidak mau tunduk (Syria) dan mencari pemimpin baru yang tunduk pada mereka. Mereka telah gagal dan akan tetap gagal," kata Bashar al Assad dalam wawancara dengan sebuah media asing baru-baru ini.

3 comments:

endra poerwadi said...

Sudah saatnya BRICS memulai debutnya dengan menyaingi IMF untuk mengembalikan kondisi diSuriah.

greenpeanut said...

emmh...mungkin tulisan di http://pohonbodhi.blogspot.com/2009/02/destruksi-bukan-berkat.html memberikan gambaran lain tentang perang...

fahmi husein said...

heran, bila posting dari blogger cahyono ini di buka, terganti oleh youtube yang aneh-aneh, rupanya ada yang sengaja menyisipkan virus, masih terbuka, harap lebih waspada.
Jaya selalu..