Monday, 17 June 2013

ERDOGAN SEGERA MENYUSUL MUBARAK? (4)

"Meskipun Ikhwanul Muslimin menggembar-gemborkan kebenciannya pada Amerika, mereka berkembang di bawah perlindungan Anglo-Americans (Inggris, Amerika, Israel) yang selalu dapat digunakannya untuk untuk melawan siapapun yang menghalanginya. Menlu Hillary Clinton telah menunjuk "pengawal pribadinya" Huma Abedin (istri dari zionis anggota Congress Amerika Anthony Weiner), yang ibunya, Saleha Abedin, adalah tokoh wanita gerakan Ikhwanul Muslimin. Dengan jaringan itulah Hillary Clinton mengendalikan Ikhwanul Muslimin".

Demikian tulis wartawan senior Perancis Thierry Meyssan di situs online Voltaire Network berjudul "The uprising against Brother Erdogan" tgl 10 Juni 2013. Jika tulisan Christianto Wibisono di Harian Suara Pembaharuan tgl 29 Mei 2007 berjudul "AMIEN RAIS DAN PAUL WOLFOWITZ" mengkonfirmasi kebenaran hubungan antara Amien Rais dengan para zionis, maka tulisan tersebut di atas mengkonfirmasi kebenaran hubungan antara gerakan Ikhwanul Muslimin dengan zionisme.

Selama ini kita mungkin sering dibuat bingung oleh berbagai anomali politik yang dimainkan oleh para politisi dan organisasi-organisasi yang dikenal dekat dengan kelompok "Ikhwanul Muslimin". Organisasi yang awalnya didirikan untuk membebaskan Palestina dari pendudukan Israel itu kini justru tampak menjadi sekutu dekat zionis.

Beberapa anomali itu misalnya adalah:
1. Enggannya Presiden Mesir Mohammad Moersi membuka blokade Gaza.
2. Mesir berubah menjadi negara debitur IMF.
3. Tidak maunya Mesir dan Turki (keduanya dipimpin oleh politisi Ikhwanul Muslimin) memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel dan justru memilih memutuskan hubungan dengan Syria yang sama-sama negara Islam.
4. Berubahnya wajah PKS (partai ini juga dipimpin oleh orang-orang yang terilhami, atau bahkan mungkin adalah anggota-anggota Ikhwanul Muslimin. Tokoh-tokohnya diketahui menjalin hubungan dekat dengan tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin Turki) dari partai Islam menjadi partai "liberal".

Bagi Thierry Meyssan, aksi-aksi demonstrasi rakyat Turki yang saat ini terus berlangsung tidak ditujukan pada gaya kepemimpinan otoriter PM Erdogan, melainkan pada Ikhwanul Muslimin, yang mana Erdogan adalah mentornya. Dan aksi-aksi demonstrasi tersebut merupakana revolusi yang membuat gerakan "Arab Spring", gerakan yang berhasil mengantarkan Ikhwanul Muslimin menjadi penguasa di beberapa negara Timur Tengah, menjadi bahan pertanyaan.

Aksi-aksi demonstrasi di Turki, selanjutnya kita sebut sebagai fenomena "Turky Spring", berakar pada ketidak konsistenan kebijakan Erdogan. Jika awalnya Erdogan menggambarkan diri sebagai "Muslim Demokrat" tiba-tiba berubah menjadi regim otoritarian. Selain itu, yang sebelumnya menerapkan kebijakan luarnegeri yang "zero problem" dengan negara-negara tetangganya, tiba-tiba saja berubah menjadi agresor di Syria. Dan pengendali dari perubahan-perubahan tersebut adalah Ikhwanul Muslimin, organisasi rahasia dimana Erdogan dan elit politik Turki saat ini tergabung.

Penting untuk diperhatikan bahwa istilah "Arab Spring" yang diberikan oleh media-media massa barat merupakan bentuk "tipuan" untuk memberikan legitimasi bagi pengalihan kekuasaan regim otoriter menjadi kekuasaan Islam yang pro-Amerika dan zionis internasional. Adalah Amerika yang memerintahkan Zinedine el Abidine Ben Ali dan Hosni Mubarak (juga Soeharto dalam Gerakan Reformasi Indonesia tahun 1998) untuk mundur dari kursi kekuasaan, bukan massa di jalanan. Adalah NATO dan tentara bayarannya yang menumbangkan dan membantai Moammar Ghadaffi, bukan rakyat Libya sendiri. Dan kini, kelompok yang sama bersama Turki dan negara-negara Teluk yang menuntut Bashar al Assad mundur, bukan rakyat Syria sendiri.
Di seluruh kawasan Afrika Utara, dengan pengecualian Aljazair, Ikhwanul Muslimin berkembang kekuasaannya dengan bantuan Hillary Clinton. Dimana-mana "demokrasi" menjadi pintu masuk bagi bagi Ikhwanul Muslimin untuk menguasai sumber-sumber ekonomi sebagai imbalan bagi persekutuan mereka dengan kapitalisme barat.

Dalam istilah "Islamisasi" Ikhwan menggunakannya sekedar sebagai retorika, bukan realitas. Di Turki mereka berusaha melegalkan larangan rokok, alkohol dan prostitusi dengan alasan Islam, namun membiarkan UU sekularisme yang melarang wanita muslimah mengenakan jilbab, dan menjalin hubungan erat dengan negara yang menindas rakyat Palestina selama 60 tahun.

Ikhwanul Muslimin dan Erdogan juga menjalin hubungan rahasia dengan Al Qaida. Mereka mengijinkan al-Mahdi Hatari, seorang pejabat tinggi Al Qaida yang berperan besar dalam penggulingan Khadaffi yang juga menjadi agen inteligen Inggris dan Amerika, bergabung dalam kapal "Mavi Marmara". Keberadaannya memungkinkan Israel melakukan eksekusi terhadap sasaran terpilih di dalam Mavi Marmara.

Amerika dikabarkan telah memerintahkan Emir Qatar, sekutu utama Erdogan yang juga menjadi penyandang dana utama gerakan Ikhwanul Muslimin, untuk mundur selambat-lambatnya sampai awal Agustus mendatang. Kemungkinan karena tekanan Saudi yang melihat Qatar mulai kurang ajar menyaingi mereka dalam konstelasi politik Timur Tengah, khususnya di Syria, juga karena Amerika melihat Qatar telah lepas kendali dalam mengorganisir kelompok-kelompok teroris di Syria.  Dengan mundurnya Emir Qatar, menjauhnya Fethullah Gulen dan "jemaat" darinya  serta sikap Amerika yang mulai keras terhadapnya, Erdogan kini berada di ujung tanduk. Itulah yang menyebabkan ia mulai menundukkan kepala dengan menerima tuntutan demonstran untuk menunda pembangunan kawasan Taman Gezi yang menjadi pemicu "Turki Spring". Namun bagi para demonstran hal itu belumlah cukup, kecuali Erdogn turun dari kursinya.

Maka kita boleh berharap, konflik Syria akan berakhir damai dan Perang Dunia III gagal meletus.



REF:
"The uprising against Brother Erdogan"; Thierry Meyssan; Voltaire Network; 10 Juni 2013.

4 comments:

Ibnu Sofyan Hasan said...

mas adi, sekedar perbandingan coba mas adi baca tulisan seorang Mahasiswa Master, Jurusan TEFL, Istanbul University. disini :
http://www.pkspiyungan.org/2013/06/istanbul-perang-non-fisik-zeytinburnu-1.html
bagaimana pendapat & tanggapan mas adi?


Lalu, Apakah menurut mas adi MAYORITAS rakyat Turki ingin Erdogan ditimbangkan?
Apakah Turki negara tiran & otoriter sperti pemerintahan Mubarak? Lalu, menurut mas adi, pemerintahan yg mana yg lbh demokratis skrg, mesir, turki, iran, atau suriah?

Sejujurnya, saya termasuk penggemar blog mas adi, jg Rutin membaca tulisan2 di blog ini. Hampir tiap hari saya mampir. Hehe

Salam persaudaraan^

Ibnu Sofyan Hasan said...

Disitus dan blog yg anti shiah, anti iran, jg anti hezbollah Saya pernah bertanya pd mereka; jika anda menganggap & meyakini bhwa iran & shiah itu pro israel AS, & sekutu2 barat lainnya dalam memerangi Islam, lalu kenapa & untuk apa israel & sekutu2nya mengembargo, mengucilkan, serta menjatuhkan sanksi sedemikian rupa yg jelas2 menyerang & menyusahakan pemerintah iran & rakyatnya? Kenapa & untuk apa hizbollah berperang berkali2 dengan israel sampe kedua pihak kehilangan ribuan personil militer mereka? Knapa & untuk apa israel & sekutu2nya “membantu” pemberontak di suriah untuk menggulingkan pemerintahan Bashar al assad? Terlalu NAIF & KONYOL jika kita menganggap itu semua sandiwara..


Sebaliknya, kepada mas adi yg meyakini tulisan2 mas adi diblog ini pd umumnya & tulisan mas adi yg berjudul “ERDOGAN SEGERA MENYUSUL MUBARAK? (1-4)” pd khususnya, saya jg bertanya pd Mas Adi skrg. Utk apa & kenapa Pada tahun 1948 Ikhwanul Muslimin turut serta dalam perang melawan israel di palestina? Utk apa & kenapa israel & sekutu2nya mendukung, atw setidaknya mendiamkan pemerintah mesir dlm memberangus & membunuh, & memenjarakan byk anggota bahkan pemimpin ikhwanul muslimin dr sejak pemerintahan gamal abdul nasir sampe husni mubarak? Untuk apa & kenapa israel & sekutu2nya sepakat memasukkan front Jabhah an-nusrah yg jelas2 terafiliasi dgn ikhwanul muslimin sbg KELOMPOK TERORIS? Untuk apa & kenapa HAMAS (yg jg jelas2 terafiliasi dgn ikhwanul muslimin) berperang berkali2 dengan israel hingga ribuan anggota HAMAS jg prsonil israel yg gugur? Dan yg terbaru, untuk apa israel & sekutu2nya “merecoki”, mengkritik pemerintahn mesir & turki (misalnya pd aksi demonstrasi di kedua negara br2 ini yg ujung2nya mw menggulingkan pemerintahan)? Pdhl sikap BERBEDA mereka tunjukkan pd pemerintahan arab saudi, bahrain, atwpun Qatar dlm menghadapi aksi dan demonstrasi serupa. Bukankah jg Terlalu NAIF & KONYOL jika kita menganggap itu semua sandiwara?

Salam Persaudaraan^

cahyono adi said...

To ibnu Sofyan Hasan
Trims atas komentar-komentarnya yang membangun. Tidak bisa diyakini bahwa Ikhwanul Muslimin telah banyak jasanya dalam membela perjuangan Palestina hingga harus kehilangan ribuan mujahidinnya di medan perang Palestina. Tapi itu dulu, sebelum (perkiraan saya) disusupi oleh kekuatan zionis, atau setidaknya sebelum tergiur oleh imbalan kekuasaan yang ditawarkan zionis internasional.

Kita mengetahui beberapa institusi besar anti-zionis/yahudi seperti Vatican, Kekhalifahan Usmani, dan kerajaan-kerajaan Eropa. Namun semuanya harus mengakui kekalahan melawan zionis internasional, termasuk Ikhwanul Muslimin. Harus diingat juga bahwa Israel tidak identik dengan zionis internasional (kapitalisme-paganisme yahudi) melainkan hanya satu proyek saja yang jika perlu pun akan dihancurkan demi kepentingan (kapitalisme-paganisme yahudi).

Ttg negara yang paling ideal, saya melihat tidak ada yg lebih baik daripada Iran. Negara demokratis modern namun kekuasaan tertinggi dipegang oleh para ulama penjaga moral bangsa.

Itulah analisis saya. Namun hanya Allah yg tahu segalanya.

Salam kenal juga

Pencinta Ahlul Bait said...

Mas adi saya setuju dengan pendapat maas adi sudah lama ikhwanul muslimin
berjuang tak pernah dapat apa apa dari kekuasaan contoh di mesir dapat pun harus ngemis pada yahudi kalau ndaak sampai berdarah darah yah itulah mohon maaf entah ya saya seorang sunni dan ikut sosialisasi syariat islam melalui suatu organisasi cuma selalu tak ada perekatnya selalu tak akur mula mula banyak jemaahnya lama lama sedikit sebenarnya kami dibawah organisasi muhammadyah terus terang saya mulai ragu . kebenaran sunni walau banyak pengikutnya di situ kata istilah yang bisa menyatukan hati hanya Allah sepertinya Allah tak meredoi. organisasi apapun di bawah sunni sedikit sekali yang paham syariat islam .saya perhatikan Iran saya yakin Allah Meredoinya . tak ada negara yang kuat kalo di imbargo sedemikian rupa ,tapi Iran benar benar luar biasa . saya yakin shiah lah yang benar .dan di lindungi Allah tanpa pertolongan Allah . tak mungkin bisa sampai Rusia dan Cina tanpa mendekati Iran mereka akan kesulitan .rusia mau tak mau harus berkoloborasi dng Iran .dan rusia sudah membuktikan kekuatan intelejen Iran sampai Amerika Tak Dapat apa apa di Irak dan Afganistan .kepiawai iran memainkan peran di asia tengah terutama dg negara negara penduduknya banyak islam di bawah federasi rusia terutama negara di laut kaspia saya yakin kedepan syria makin kuat dan akan mencontoh iran membangun negara dan inilah momentnya sudah tepat dan rakyat mereka sudah dapat pelajaran dari kejadian ini .wasalam