Friday, 14 June 2013

HIKMAH KEHIDUPAN (2)

Semua orang, dengan berbagai tingkatan, pasti pernah mengalami masa-masa menegangkan dalam hidupnya. Misalnya saja, seorang anak yang bermusuhan dengan teman sepermainannya, pasti akan dihinggapi rasa takut setiap saat untuk bertemu musuhnya itu. Namun yang saya rasakan ini jauh lebih dari itu meski mungkin tidak sebesar perasaan rakyat Syria yang berada di tengah-tengah pemberontak teroris.

Masa hidup paling menegangkan saya terjadi ketika saya masih kuliah di sebuah PTN di Yogyakarta di tahun 1990-an. Saat itu saya tinggal di asrama koperasi mahasiswa (Kopma) di daerah Karanggayam, Sleman. Selama bertahun-tahun kehidupan di asrama sangat harmonis. Iklim sosial dan budaya Yogya yang "ayem tentrem" sangat mempengaruhi kehidupan di dalam asrama. Sedemikian "nyaman" kehidupan di asrama hingga ada beberapa mahasiswa yang terlena dan "lupa diri" dengan tugasnya, menjadi mahasiswa abadi hingga 10 tahun lebih.

Namun suasana harmonis itu berubah 180 derajat setelah adanya beberapa penghuni baru yang berasal dari luar Jawa, sebagian besar dari Indonesia Timur dan sebagian lagi dari Sumatera Utara. Saya bukannya anti terhadap orang-orang luar Jawa karena saya sendiri pun kini tinggal di luar Jawa dan menikmatinya, namun keberadaan mereka saat itu benar-benar telah membuat suasana menjadi menegangkan. Selain kebiasaan hura-hura di malam hari, mereka juga sering memancing perselisihan dengan para penghuni lama.

Yang paling menonjol di antara mereka adalah 2 orang, seorang berasal dari Sumbawa yang terkenal dengan peringainya yang kasar dan pemarah. Beberapa penghuni lama telah menjadi korban keganasannya dan babak belur dibuatnya, termasuk seorang mahasiswa senior yang telah lulus dan masih menumpang di asrama. Saya menduga karena wajahnya yang buruk rupa serta latar belakang sosial ekonomi yang kurang membuatnya merasa harus mengkompensasi kekurangannya dengan kelebihan fisik.

Suatu hari "gorila Sumbawa" ini (ia lebih sering bertelanjang dada menunjukkan otot-ototnya yang menonjol dan kulitnya yang legam daripada berpakaian rapi) memancing perselisihan dengan saya saat kami bermain bola plastik di lapangan mini di pekarangan asrama. Setelah berpura-pura tidak sengaja menendang tubuh saya, saya melihatnya tersenyum mengejek saya. Terpancing, saya pun membalas dengan menggarukkan tangan saya ke punggungnya dalam satu perebutan bola. Ternyata ototnya tidak sekuat yang dikira orang. Dengan mudah kuku saya mengelupaskan kulitnya dan merobek sebagian ototnya. Darah pun mengucur dari punggungnya. Sejak itu ia tidak lagi berani memandang wajah saya.

Namun yang paling berbahaya daripada "gerombolan si Berat" itu (mengambil nama gang penjahat dalam komik Donald Bebek) adalah pemimpinnya yang berasal dari Ambon. Selain keberaniannya berkelahi, ia juga diberi kelebihan kepemimpinan yang kuat, dan cukup intelek. Tidak heran jika ia menjadi pemimpin aktifis mahasiswa di kampusnya. Ia aktif dalam organisasi SMID, organisasi mahasiswa berfaham sosialis-komunis yang kini saya tahu merupakan turunan dari proyek "Open Society"-nya George Soros yang hendak mendemokratisasi dan mereformasi Indonesia.

Suatu hari pemimpin "gerombolan di Berat" itu melakukan tindakan penganiayaan berat terhadap seorang penghuni asrama senior hingga harus menjalani perawatan medis. Aksi tersebut sangat membuat syok seluruh penghuni asrama dan terutama pada korban penganiayaan, sedemikian rupa sehingga, meski anggota senior Resimen Mahasiswa, korban tidak berani memperkarakannya ke polisi.

Dari penuturan korban, diketahui bahwa pemimpin "gerombolan si Berat" itu, sebut saja inisialnya "A", melakukan penganiayaan karena marah setelah tindakannya menghamili teman kuliahnya bocor ke "publik". Korban mengaku melihat "tersangka" bersama teman wanitanya berada di klinik aborsi yang biasa melayani mahasiswi yang hamil di luar nikah. Saya bukan tipe orang yang suka menggosip. Namun kebersamaan yang terlalu intim antara sepasang remaja, selama berjam-jam setiap hari di dalam kamar asrama, tentu sangat beralasan untuk mempercayai gossip itu.

Tak tersentuh hukum, membuat "gerombolan si Berat" semakin menjadi-jadi. Teriakan-teriakan mereka di malam hari dengan ditemani minuman keras, semakin lantang saja. Tidak hanya itu, sesekali mereka juga melakukan pengrusakan terhadap fasilitas asrama.

Prihatin dengan kondisi tersebut, saya pun mencoba mengorganisir teman-teman penghuni asrama yang saya anggap bisa mengatasi masalah. Namun tak seorang pun berani mengambil risiko. Semuanya lebih memilih konsentrasi dengan urusan kuliahnya sendiri. Hanya ada seorang yang bersedia bertindak, seorang mahasiswa Fakultas Kehutanan dari kota Pati yang sangat pendiam bernama Rian.

Kesediaan Rian membantu mengatasi masalah sangat melegakan saya. Saya percaya pada keberanian Rian pada saat pertama kali bertemu dengannya. Sikap pendiamnya itu menyembunyikan keberaniannya yang tidak terduga. Selain itu, ia adalah keturunan Bupati Pragolo, pahlawan daerah Pati yang berani melawan kediktatoran Raja Mataram Panembahan Senapati di masa lalu.

Maka kami berdua melakukan ikrar bahwa jika "gerombolan si Berat" membuat onar lagi, kami akan melakukan tindakan keras.

Dan terjadilah apa yang tidak bisa saya hindarkan. Suatu pagi, usai menunaikan sholat subuh di musholla asrama, saya menemukan papan pengumuman asrama tergeletak di pinggir jalan. Semalam saya memang mendengar suara berderak keras diiringi suara-suara ketawa. Namun karena ngantuk, saya tidak memperdulikan hal itu. Saya meyakini "gerombolan si Berat"-lah yang melakukannya karena hal itu pernah terjadi sebelumnya.

Dengan marah saya pun mengajak Rian untuk menunaikan tekad kami berdua. Tanpa permisi, pintu kamar "A" pun kami dobrak, dan tampaklah 6 orang tertidur di lantai kamar dengan kondisi kamar berantakan. Ke-6 orang itu kaget setengah mati mengalami perlakuan seperti itu. Bahkan si "gorila Sumbawa" pun kebingungan. Namun bukan pemimpin namanya kalau tidak melakukan reaksi apapun. "A" pun memerintahkan "gorila Sumbawa" untuk meladeni tantangan kami berduel di lapangan asrama. Entah karena trauma dengan cakaran saya atau bukan, yang jelas saya bersyukur si gorila memilih Rian untuk menjadi lawan duelnya. Dan hal itu menjadi pengalaman paling pahit baginya.

Satu menit pertama pertarungan, si gorila tampak unggul dalam hal kekuatan pukulan dan kelincahan, sementara Rian hanya sesekali melancarkan pukulan. Namun menit berikutnya adalah milik Rian. Tampak sekali Rian memiliki pengalaman berkelahi, sedang lawannya hanyalah pemula. Banyak mengumbar pukulan membuat si "gorila Sumbawa" cepat kehabisan tenaga hingga ia menjadi bulan-bulanan Rian. Terakhir dengan satu kuncian, "gorila Sumbawa" pun menyerah.

"Gerombolan si Berat" pun tertunduk malu di hadapan teman-teman asrama yang menyaksikan perkelahian dari kejauhan dan berteriak-teriak kegirangan melihat kekalahan mereka. Namun tentu saja hal itu belum menyelesaikan masalah dan justru menambah masalah karena "A" dan kawan-kawan pasti akan menuntut balas. Dan menunggu pembalasan itu ternyata menjadi siksaan sendiri.

Menunggu orang mendobrak pintu kita sambil mengayunkan parang tentu bukan hari-hari yang menyenangkan. Saya sudah mendengar desas-desus "A" telah mempersiapkan balas dendam dan telah menyiapkan parang pusaka yang dibawa dari kampungnya. Saya pun membayangkan peristiwa beberapa tahun sebelumnya ketika 2 kelompok mahasiswa UII saling bunuh gara-gara rebutan jabatan pengurus organisasi mahasiswa. Tidak tahan dengan situasi itu, saya pun mengambil langkah sendiri. Satu per-satu saya mendatangi anggota "gerombolan si Berat", mulai dari yang paling lemah. Kepada mereka saya memberikan pilihan: menganggap selesai permasalahan, atau berkelahi satu lawan satu.

Ternyata mereka pun sama dengan mahasiswa lainnya: tidak ingin mendapatkan masalah dan ingin menyelesaikan kuliahnya dengan lancar. Mereka pun, termasuk "gorila Sumbawa", menyatakan permasalahan selesai. Demikian juga dengan "A", meski awalnya bersikeras menyelesaikannya di lapangan.

Kini, lebih 15 tahun kemudian, saya mendengar kabar "A" telah menjadi seorang pejabat tinggi negara, yaitu staff khusus kepresidenan. Ia bersama dengan teman-teman aktifisnya diboyong presiden untuk menjadi pembantu-pembantu dekatnya. Saya tahu faktor George Soros sangat berperan dalam hal ini. Apalagi karena ia juga murid dari "Bapak Reformasi" Amien Rais yang berkali-kali bertemu Soros, dan yunior dari tokoh liberalisme Indonesia yang telah melego murah blok minyak Cepu untuk Exxon Mobile, Rizal Malarangeng.

Dibandingkan dengan kondisi saya saat ini yang serba pas-pasan, nasib "A" tentu sangat kontras (saya dengar kabar anggaran tahunan untuk dirinya pribadi mencapai Rp 2 miliar lebih). Namun saya masih percaya bahwa yang saya miliki saat ini adalah yang terbaik bagi saya. Apalah artinya menjadi seorang pejabat tinggi jika hanya menjadi antek kepentingan asing dan tidak memberikan kesejahtaraan bagi rakyat. Justru jabatan tinggi itu akan menjadi beban berat kelak di Hari Pengadilan.

4 comments:

Pendekar Patahhati said...

hehehhehe pengalaman pribadi yg lumayan ..apalah arti'a jd orkay smua kebutuhan tercukupi tp menjd antek2 Zionis ..

endra poerwadi said...

Saya jadi teringat matinya seorang tentara elit indinesia oleh seorang preman yang kemudian melahirkan tragedi cebongan.

cahyono adi said...

He he he. Masa lalu yg hanya jadi kenangan. Kalau sekarang tentu mikir2 dulu.

Achdyat Alpharia said...

Salut, Pak Adi...